Harga Gas Industri di RI Lebih Mahal dari Singapura, ESDM: Ceritanya Panjang

Harga Gas Industri di RI Lebih Mahal dari Singapura, ESDM: Ceritanya Panjang

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 29 Agu 2016 17:26 WIB
Harga Gas Industri di RI Lebih Mahal dari Singapura, ESDM: Ceritanya Panjang
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Harga gas di dalam negeri kelewat mahal. Ini dikeluhkan pengusaha Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam pertemuan dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto tadi pagi.

Anehnya, Singapura, yang tak punya sumber gas bumi, harga gasnya justru bisa lebih murah ketimbang Indonesia. Padahal sebagian pasokan gas untuk Singapura diimpor dari Indonesia.

Sebagai informasi, harga gas industri di Indonesia menyentuh angka US$ 8-10 per Million Metric British Thermal Unit (MMbtu). Lebih mahal dibandingkan dengan harga gas industri di Singapura sekitar US$ 4-5 per MMbtu, Malaysia US$ 4,47 per MMbtu, Filipina US$ 5,43 per MMbtu, dan Vietnam sekitar US$ 7,5 per MMbtu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, mengatakan bahwa ada 'cerita panjang' tentang mahalnya harga gas di Indonesia yang sampai 2 kali lipat di Singapura.

"Wah, kalau itu panjang ceritanya, nanti kita bahas ya," kata Wirat saat ditemui sebelum rapat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/8/2016).

Masalah harga gas untuk industri sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah, sore ini dibahas di Kantor Kemenko Perekonomian.

"Kita mau lapor soal harga gas. Kita tunggu dulu hasilnya ya," ujar Wirat.

Menko Perekonomian Darmin Nasution, Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso telah hadir sejak pukul 16.00 WIB untuk rapat koordinasi tentang harga gas.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartato mengatakan, harga gas untuk industri di dalam negeri idealnya di bawah US$ 5/MMbtu. Sekarang harganya rata-rata dua kali lipat dari angka ideal.

"Kemarin dalam rapat sudah kita sampaikan, ada wacana agar harga gas ini bisa di bawah US$ 5/MMbtu. Kita masih bahas, kita tunggu nanti sore," tukasnya.

Pihaknya ingin harga gas bisa segera turun untuk meningkatkan minat investasi dan daya saing perindustrian di dalam negeri. Akibat tingginya harga gas, biaya bahan bakar di pabrik-pabrik jadi tidak efisien, tarif listrik juga ikut mahal. Ini melemahkan daya saing dan menghambat arus investasi ke Indonesia. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads