Ini Alasan Sepatu Made in Ciomas Kalah Saing dengan Produk Impor

Ini Alasan Sepatu Made in Ciomas Kalah Saing dengan Produk Impor

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Rabu, 04 Jan 2017 10:05 WIB
Ini Alasan Sepatu Made in Ciomas Kalah Saing dengan Produk Impor
Foto: Fadhly F Rachman
Jakarta - Sejumlah pelaku industri alas kaki rumahan atau homemade di Ciomas, Kabupaten Bogor mengaku kalah saing dengan produk impor yang beredar di pasar.

Ketua Koperasi Sepatu Sendal Bogor (Kossebo), Mamun mengatakan, jumlah pesanan alas kaki dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat kalah bersaing dengan barang impor.

Mamun mengaku, selama ini para pelaku industri di sana baru bisa menjual produknya jika ada pesanan yang datang, mereka menyuplai barang produksinya ke Pasar Anyar di Bogor, berbeda dengan barang impor yang telah memiliki banyak stok di sana. Para perajin, kata Mamun, belum berani untuk membuat barang jadi karena terkendala modal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya kami kan di sini bikinnya dalam jumlah besar, tapi hanya nunggu pesanan. Kalau enggak ada yang pesan, tapi kami sudah bikin duluan nanti siapa yang mau beli," ujar Mamun kepada detikFinance, Jakarta, Rabu (4/1/2017).

Ia pun mengatakan, selama ini para pelaku masih banyak yang terkendala masalah modal. Mereka pun masih enggan untuk meminjam modal dari perbankan.

"Masayarakat masalahnya modal, kalau cuma produksi satu pasang sepatu itu Rp 200 ribu. Kalau satu kodi Rp 2 juta. Kalau KUR (Kredit Usaha Rakyat) mah kecil dapetnya, paling Rp 25 juta," kata dia.

"Lagi pula kalau kita diberi pinjam modal gede pun, terus misalnya nanti kita bikin stok barang, terus enggak laku, nanti kita kan setiap bulan tetap ditagih buat bayar utang. Orang barang saja belum laku, bagaimana bayar utangnya," ungkap Mamun yang juga pelaku industri alas kaki.

Sedangkan, saat ini pelaku industri di Ciomas pun mengaku masih belum memanfaatkan penjualan sistem online.

"Karena kalau kita jual online itu kebanyakan yang beli satuan, buat orang sendiri pakai. Sedangkan kita kan jualnya dalam jumlah besar. Kalau kita produksi satu-satu kita rugi," kata dia.

"Bahan bakunya yang susah. Jadi kalau cuma pesan satu pasang, banyak lebihnya (bahan). Ntar itu sisanya bagaimana? Kan mesti nunggu ada yang beli dulu, enggak pasti juga kapan ada yang mau beli," tuturnya. (ang/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads