Ketua Koperasi Sepatu Sendal Bogor (Kossebo), Mamun mengatakan, jumlah pesanan alas kaki dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibat kalah bersaing dengan barang impor.
Mamun mengaku, selama ini para pelaku industri di sana baru bisa menjual produknya jika ada pesanan yang datang, mereka menyuplai barang produksinya ke Pasar Anyar di Bogor, berbeda dengan barang impor yang telah memiliki banyak stok di sana. Para perajin, kata Mamun, belum berani untuk membuat barang jadi karena terkendala modal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia pun mengatakan, selama ini para pelaku masih banyak yang terkendala masalah modal. Mereka pun masih enggan untuk meminjam modal dari perbankan.
"Masayarakat masalahnya modal, kalau cuma produksi satu pasang sepatu itu Rp 200 ribu. Kalau satu kodi Rp 2 juta. Kalau KUR (Kredit Usaha Rakyat) mah kecil dapetnya, paling Rp 25 juta," kata dia.
"Lagi pula kalau kita diberi pinjam modal gede pun, terus misalnya nanti kita bikin stok barang, terus enggak laku, nanti kita kan setiap bulan tetap ditagih buat bayar utang. Orang barang saja belum laku, bagaimana bayar utangnya," ungkap Mamun yang juga pelaku industri alas kaki.
Sedangkan, saat ini pelaku industri di Ciomas pun mengaku masih belum memanfaatkan penjualan sistem online.
"Karena kalau kita jual online itu kebanyakan yang beli satuan, buat orang sendiri pakai. Sedangkan kita kan jualnya dalam jumlah besar. Kalau kita produksi satu-satu kita rugi," kata dia.
"Bahan bakunya yang susah. Jadi kalau cuma pesan satu pasang, banyak lebihnya (bahan). Ntar itu sisanya bagaimana? Kan mesti nunggu ada yang beli dulu, enggak pasti juga kapan ada yang mau beli," tuturnya. (ang/ang)










































