Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, swasembada garam industri masih membutuhkan beberapa tahun lagi. Pasalnya, penggunaan teknologi agar menghasilkan garam dengan kualitas tinggi untuk industri masih sangat minim digunakan petani dalam negeri.
Direktur Industri Kecil dan Menengah Pangan, Barang dari Kayu, dan Furniture Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Sudarto, mengungkapkan dari total kebutuhan garam industri 2 ton per tahun, seluruhnya masih diimpor dari luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, selama ini pasar dalam negeri membutuhkan 2 jenis garam, yakni garam konsumsi dan garam industri. Garam konsumsi dengan kadar NACL sebesar minimal 94%, sementara garam industri membutuhkan kadar NACL yang lebih tinggi yakni minimal 97%, bahkan garam industri untuk kebutuhan farmasi mensyaratkan NACL 99%.
Sudarto berujar, sebenarnya sudah ada teknologi yang bisa membantu petani memproduksi garam dengan kualitas industri. Namun masalahnya, perlu pembinaan agar petani garam mengubah cara berbudidaya mereka dalam produksi garam.
"Buat garam industri untuk menghasilkan NACL 97 itu harus mengubah aspek budaya produksinya, karena butuh waktu lebih lama, paling cepat satu bulan, bahkan dua bulan untuk hasil yang bagus. Sementara di petani kita 10 sampai 15 hari sudah di panen," kata Sudarto.
Sementara untuk teknologi membuat garam kualitas industri, menurut dia, sebenarnya sudah tersedia. Namun untuk penggunaannya secara luas, perlu ada skema pembiayaan khusus untuk membantu petani garam lantaran harganya cukup mahal.
"Kita sudah ada teknologi pembuatan garam industri dengan media isolator. Ini harus ada desain lahan khusus, pengaturan air, dan penanganan pasca panennya. Jadi memang perlu mengubah cara budidayanya dulu," jelas Sudarto. (idr/wdl)











































