Follow detikFinance
Rabu 03 May 2017, 19:20 WIB

Kenapa Tekstil Impor Harganya Jauh Lebih Murah dari Lokal?

Muhammad Idris - detikFinance
Kenapa Tekstil Impor Harganya Jauh Lebih Murah dari Lokal? Foto: Ari Saputra
Jakarta - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di dalam negeri selama ini cukup terpukul dengan serbuan barang impor. Saat ini saja, bahan baku seperti kain yang digunakan industri TPT domestik, sebanyak 70% berasal dari impor.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, mengatakan banjirnya barang tekstil impor karena banyak negara produsen 'membuang' kelebihan produksinya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagian besar produk tekstil impor tersebut berasal dari China.

Produk dari kelebihan produksi tersebut memiliki harga yang jauh lebih murah, bahkan dijual hanya 10% dari harga jual sebenarnya. Lantaran barang seperti kain yang berlebih dari negara asal tersebut merupakan kualitas B atau B grade.

"Ilustrasinya begini, kalau di satu negara kapasitasnya 30 kali lebih besar dari kita, produksi kita 1.000, tentu 30 dikali dari kita yang 1.000, berarti dia bisa produksi 30.000. Kita cuma buat 1.000," kata Ade dalam Diskusi 'Industri Tekstil Primadona yang Terabaikan' di Hotel Ibis, Jakarta, Rabu (3/5/2017).

"Kalau dari 30.000 ada barang-barang yang namanya B grade 5% saja, artinya 5% dikalikan 30.000, berarti sudah 1.500 barang buangan yang jumlahnya di atas kapasitas produksi kita yang cuma 1.000. Itu dibuang ke berbagai negara, termasuk Indonesia," tambahnya.

Lanjut dia, kain-kain impor tersebut bisa dijual dengan harga sangat murah ke Indonesia. Hal ini tentu sangat memukul industri tekstil di dalam negeri.

"Harga jual barang mereka 10% dari harga barang asli mereka, kan enggak masuk akal. Karena bagi mereka, membuang barang yang KW (grade B) itu kan sama dengan buang cuma dengan harga 10%, karena keuntungan sudah dapat dari yang jual 95% itu. Jadi kalau buang 5% ke kita dengan harga 10% ya banjir (impor) kita, karena kapasitas besar, kalau kita kapasitas kecil," terang Ade.

Apalagi, sambungnya, masyarakat Indonesia tak terlalu peduli dengan kualitas dari produk hasil tekstil. Sehingga pembeli dalam negeri lebih memilih produk tekstil yang harganya lebih murah.

"Dijual ke kita, B grade pasti harganya lebih murah, dan orang Indonesia masih belum awareness (kesadaran) dalam membeli secarea kualitas. Belinya barang-barang B grade, janganlah ngomong B grade, baju-baju bekas saja dibeli," pungkas Ade.

Dari data Kementerian Perindustrian, impor bahan baku tekstil pada tahun 2016 tercatat sebesar US$ 6,7 miliar, meningkat dari tahun 2015 sebesar US$ 6,51 miliar. Sementara impor periode Januari-Februari 2017 yakni sebesar US$ 1,38 miliar, lebih rendah dari impor di periode yang sama tahun lalu yakni US$ 1,07 miliar.

Impor bahan baku tekstil tersebut antara lain sutra, serat tekstil, serat stapel, benang filamen, benang tenunan, benang rajutan, sulaman atau bordir, dan kain lainnya.

Sementara untuk impor produk pakaian jadi tahun 2016 tercatat sebesar US$ 436,33 juta, atau naik 4,39% dibandingkan tahun 2015 yakni US$ 421,61 juta. Untuk impor pakaian jadi di periode Januari-Februari 2017 sebesar US$ 77,53 juta atau naik 2,39% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar US$ 75,72 juta. (idr/dna)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed