Follow detikFinance
Senin 08 May 2017, 18:09 WIB

Selain Daya Beli, Ini Penyebab Penjualan Minuman Ringan Turun

Muhammad Idris - detikFinance
Selain Daya Beli, Ini Penyebab Penjualan Minuman Ringan Turun Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Pengusaha minuman ringan kemasan mengeluhkan lesunya penjualan minuman ringan pada kuartal I-2017. Selain karena rendahnya daya beli, penurunan penjualan disebabkan karena sejumlah tudingan negatif soal minuman soda dan berpemanis.

Ketua Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), Triyono Pridjosoesilo, mengatakan hal itu menjadi penyebab kedua penjualan setelah rendahnya pengeluaran rumah tangga di awal tahun 2017. Kuartal I-2017 penjualan industri minuman ringan minus 3-4%, dan terjadi hampir di semua kategori minuman ringan.

"Penyebabnya berita atau kampanye-kampanye negatif, seperti berita gula di minuman ringan jadi penyebab utama diabetes. Padahal faktanya peranan makanan dan minuman siap saji itu kecil ketimbang makanan rumah tangga seperti beras," jelas Triyono di acara Asrim Outlook 2017 di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Senin (8/5/2017).

"Persepsi di konsumen banyak berita-berita keluar, terutama di medsos, ini kita perhatikan gula dalam minuman kemasan yang lagi banyak disorot sebagai penyebab obesitas. Padahal fakta ilmiahnya belum ada," tambahnya.

Baca juga: Pengusaha Minuman Ringan Curhat Konsumen Irit Belanja

Lanjut dia, selain tudingan negatif, banyak pula beredar informasi keliru yang menyesatkan yang membuat penjualan minuman ringan turun.

"Kopi siap saji seduh dalam kemasan informasinya kopinya sedikit, padahal itu tidak tepat, kopi diproses makanya dari warna yang berubah," ucap Triyono.

Sementara itu, Willem Petrus Riwu, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian menuturkan, informasi-informasi negatif terkait industri minuman tersebut cukup memukul industri minuman ringat di saat daya beli masyarakat sedang melemah,

"Terkait kopi instan, terkait soda terbakar. Gara-gara sosmed orang jadi jarang beli, secara tidak sadar itu pengaruh. Padahal orang luar minum soda sudah kayak minum air, sementara karena pesan beredar di handphone banyak orang tidak jadi beli softdrink. Padahal itu tidak benar. Jadi kalau industri ini melemah, otomatis ekonominya melemah, karena industri makanan minuman itu 33% dari PDB non migas," terang Willem.

Seperti diketahui, pertumbuhan industri minuman ringan mengalami minus 3-4% di kuartal I-2017. Sementara tren pertumbuhan dalam 4 tahun terakhir yakni 4-8%, jauh di bawah pertumbuhan pada awal tahun 2000-an yang berada pada kisaran 10-15%.

Baca juga: Pengusaha Gelisah Minuman Soda akan Dikenakan Cukai

Jika melihat volume penjualannya, tahun 2016 menurut data Asrim yakni 34,76 miliar liter, tahun 2014 sebesar 32,31 miliar liter, tahun 2013 sebesar 29,76 miliar liter, dan tahun 2012 sebesar 27,46 miliar liter.

Minuman ringan kemasan tersebut antara lain minuman air dalam kemasan, minuman berkarbonasi, teh siap saji, jus dan sari buah, kopi dan susu, serta isotonic. (idr/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed