Follow detikFinance
Jumat 12 May 2017, 22:15 WIB

Jaring Lulusan SMK Masuk ke Industri, RI Belajar dari Jerman

Hendra Kusuma - detikFinance
Jaring Lulusan SMK Masuk ke Industri, RI Belajar dari Jerman Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Pemerintah menandatangani kesepakatan kerja sama dalam pendidikan vokasi dengan pemerintah Jerman. Kerja sama tersebut ditandatangani Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, dan Federal Minister for Economic Coorporation and Development Jerman, Gerd Muller di Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Jumat (12/5/2017).

"Penguatan kerja sama dalam pendidikan vokasi ini sejalan dengan komitmen Indonesia melakukan reformasi pendidikan vokasi, untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, berkeahlian. dan sesuai dengan kebutuhan industri, dan pembangunan nasional," kata Bambang.

Penandatanganan kerja sama program pendidikan vokasi ini merupakan langkah lanjutan dari komitmen Presiden Joko Widodo dan Kanselir Republik Federal Jerman Angela Merkel untuk bekerja sama dalam peningkatan sistem Pendidikan Pelatihan Teknik dan Vokasi atau Technical and Vocational Education and Training (TVET).

Declaration of Intent ditujukan untuk mendorong implementasi German Dual Approach to TVET yang mengedepankan keterlibatan pihak swasta atau industri dalam peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan teknik dan vokasi di Indonesia.

Hasil nyata dari kerja sama ini, kata Bambang, pemerintah akan membenahi sistem edukasi sekolah di seluruh Indonesia yang sejalan dengan bisnis komuniti. Salah satunya adalah mengenai sistem pemagangan.

"Harusnya itu yang namanya murid, tidak harus selalu belajar di kelas, dan di lab, tetapi juga harus belajar langsung di pabriknya," terang Bambang.

Tindak lanjut usai penandatangan kerja sama ini, Bambang memastikan yang akan dilakukan pemerintah adalah memberikan kesempatan magang kepada pelajar SMK dan politeknik dengan penerapan sistem Jerman.

"Jadi di situ kita belajar dulu dari Jerman dengan pemagangan yang benar. Apakah nanti kita kurangnya di sekolah, jadi apa yang bisa diadopsi dari sistem Jerman ke kita," kata Mantan Menteri Keuangan itu.

Bambang menyebutkan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sampai saat ini bersedia terlibat dalam program pendidikan vokasi. Dalam program ini juga tidak hanya ditujukan pembenahan bagi pelajar, melainkan juga peningkatan kualitas guru, kurikulum pendidikan, serta fasilitas yang didapatkan saat bekerja.

Menurut Bambang, dalam mengadopsi sistem pendidikan vokasi milik Jerman, pemerintah memastikan bisa mengalokasikan pendanaannya dari APBN maupun pinjaman. Namun, untuk saat ini masih belum ditentukan.

"Dalam rencana kerja yang kita buat kan ada 10 sektor nasional, satunya itu pendidikan, di bawah pendidikan hanya ada 2 program prioritas satu itu perbaikan kualitas guru, nomor 2 adalah pendidikan vokasi. Berarti ini menunjukan kita fokus, kalau fokus berarti harus ada anggaran yang lebih besar, tapi nanti kita lihat APBN lah," tutur Bambang

Hingga saat ini, pengalokasian anggaran pendidikan masuk ke dalam 10 anggaran prioritas pemerintah. Yang jelas, dengan kerja sama Indonesia dengan Jerman, menandakan bahwa pemerintah serius membenahi dan meningkatkan pendidikan nasional yang link and match dengan yang dibutuhkan sektor industri.

"Ya semuanya, praktis kita kerjakan semuanya, Jerman nanti berikan technical assistent di awal, bagaimana pemagangan bisa jalan, bagaimana guru ditingkatkan kualitasnya, bagaimana guru diperbaiki, apa saja yang harus diperbaiki di sekolah, sekolahnya sendiri harus ditambah atau tidak, yang sekarang ini dimulai dari pemagangan," papar Bambang

Selain vokasional, lanjut Bambang, kerja sama antara Indonesia dengan Jerman yaitu di sektor energi baru terbarukan, serta sertifikat produk minyak kelapa sawit, dan ke depan akan ada kerja sama di sektor kemaritiman.

"Tapi sekarang fokus di vokasi. Karena dua kepala negara sudah setuju," tukasnya.

Declaration of Intent on Strengthening and Deepening of the Partnership in the Field of Technical and Vocational Education and Training tersebut mencakup enam poin penting yaitu sebagai berikut:

A. Dukungan untuk mendorong reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi terutama dalam hal meningkatkan keterlibatan intensif pihak swasta.

B. Dukungan pendidikan dan pelatihan vokasi untuk peningkatan kebekerjaan dan pembangunan sektor unggulan dan daerah.

C. Dukungan dalam pengembangan sistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan dari pendidikan menengah ke jenjang pendidikan tinggi.

D. Dukungan untuk peningkatan kualitas Pembelajaran, pendidik vokasi, dan asesor, terutama melalui pelatihan di industri.

E. Dukungan untuk membangun kerja sama yang erat antara satuan pendidikan vokasi dengan sektor swasta indonesia dan Jerman, antara lain meialm percontohan pengembangan pendidikan vokasi sistem ganda.

F. Peningkatan kualitas dan cakupan dalam pengembangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia dan kurikulum pendidikan vokasi bekerja sama dengan pihak swasta, dan pengembangan sistem sertifikasi kompetensi lulusan .

Untuk diketahui, Data Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan per 2016 mencatat, saat ini setidaknya terdapat 13.167 SMK yang didukung 287.717 guru kejuruan di Indonesia.

Ada sembilan bidang keahlian favorit di SMK yang diminati siswa, yaitu Teknologi dan Rekayasa (538 713 siswa), Teknologi informasi dan Komunikasi (972.526 siswa), Kesehatan (197.738 siswa), Agribisnis dan Agroteknologi (186.554 siswa), Perikanan dan Kelautan (56.647 siswa), Bisnis dan Manajemen (182.091 Siswa), Pariwisata (286.465 siswa), Seni Rupa dan Kriya (36.396 siswa), Seni Pertunjukan (8.258 siswa). (hns/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed