Follow detikFinance
Sabtu, 29 Jul 2017 16:50 WIB

Kakao Blitar Laris Hingga ke Malaysia dan Singapura

Erliana Riady - detikFinance
Foto: Erliana Riady/detikcom Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar - Kakao merupakan satu diantara hasil bumi di Kabupaten Blitar yang potensial. Struktur tanah dan letak geografis wilayah Kabupaten Blitar sangat mendukung proses tumbuh kembang tanaman yang berasal dari Amerika Latin ini.

Karena merupakan tanaman hasil hutan non kayu, pohon Kakao subur tumbuh di sekitar areal hutan wilayah Blitar. Baik itu di Blitar Utara maupun Selatan. Jika di Blitar Utara, Kakao dijadikan tanaman tumpang sari di antara kopi dan teh. Untuk Blitar selatan, tanaman ini tumbuh di antara pohon jati dan kelapa.

Kakao yang ditanam di Blitar adalah jenis Criollo. Jenis ini merupakan tanaman kakao yang menghasilkan biji coklat yang mutunya sangat baik dan dikenal dengan coklat mulia, ciri-cirinya adalah buahnya berwarna merah atau hijau, kulit buahnya tipis berbintil-bintil kasar dan lunak.

Biji buahya berbentuk bulat telur berukuran besar dengan kotiledon berwarna putih pada waktu basah. Jumlah jenis ini ada sekitar ± 7% dan dihasilkan di Indonesia, Ekuador, Venezuela, Jamaika, dan Sri lanka.
Kakao Blitar Laris Hingga ke Malaysia dan SingapuraFoto: Erliana Riady/detikcom
Kakao jenis ini lebih disukai produsen coklat. Selain kandungan lemaknya rendah, rasanya juga paling nikmat jika dibandingkan jenis lainnya. Di atas lahan seluas 3.500 hektar yang tersebar di 22 Kecamatan di Kabu[aten Blitar, mampu menghasilkan 2 ton biji kakao dalam sehari.

"Disini kami bisa panen tiap 10 hari karena perawatan dan penanganan pohonnya relatif mudah. Jadi dalam sebulan itu kami bisa panen 60 ton biji kakao," jelas Kholid Mustofa selaku Koordinator Kelompok Petani Kakao Blitar pada detikFinance, Sabtu (29/7/2017).

Melibatkan 48 kelompok tani atau sekitar 16.000 orang anggota, biji kakao produksi Kab Blitar bisa memenuhi hampir 30% kebutuhan kakao dunia sebagai bahan dasar coklat.

"Biji kakao dari Blitar kami ekspor ke Malaysia dan Singapura. Ada juga permintaan dari daratan China. Di negara itu mereka bikin bahan dasar coklat beragam jenis sesuai pesanan pabrikan coklat besar di Eropa dan Amerika," tambah owner Kampung Coklat itu.

Indonesia, kata Kholid, negara produsen kakao ketiga setelah Pantai Gading dan Gana. Selain Kab Blitar, wilayah Sulawesi Selatan juga merupakan daerah yang potensial sebagai produsen kakao. Dalam setahun, Indonesia mampu menghasilkan 700 ribu ton biji kakao.
Kakao Blitar Laris Hingga ke Malaysia dan SingapuraFoto: Erliana Riady/detikcom

Kebijakan Pemprov Jatim yang menjadikan kakao sebagai tanaman rakyat dengan memperluas 10 hektar di 5 wilayah , diharapkan mampu menambah kapasitas produksi kakao Indonesia.

"Tahun 2014 Uni Eropa memberi bantuan Rp 7,5 miliar untuk budidaya kakao di Pacitan, Trenggalek, Kab Malang, Bondowoso dan Banyuwangi. Kabupaten Blitar sebagai lahan percontohan dan pelatihannya," ungkap Kholid.

Dengan perluasan lahan kakao ini, diprediksi dua tahun ke depan Indonesia mampu mencapai target produksi kakao 1,75 juta ton per tahun . Dan akan menjadi produsen kakao nomer satu di dunia pada tahun 2025 mendatang.

Kakao Blitar Laris Hingga ke Malaysia dan SingapuraFoto: Erliana Riady/detikcom
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed