Follow detikFinance
Jumat 29 Sep 2017, 19:46 WIB

Pengusaha Minta Lelang Gula Rafinasi Dibatalkan, Ini Alasannya

Muhammad Idris - detikFinance
Pengusaha Minta Lelang Gula Rafinasi Dibatalkan, Ini Alasannya Foto: Dok. Pribadi
Jakarta - Kalangan dunia usaha merasa keberatan dengan diberlakukannya penjualan gula kristal rafinasi (GKR) lewat lelang. Pelaksanaan lelang gula secara online sedianya akan mulai dilakukan 1 Oktober 2017, namun kemudian ditunda hingga Januari tahun depan.

Ketua Tim Ahli Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sutrisno Iwantono, mengatakan aturan yang mewajibkan pembelian gula rafinasi dengan cara lelang dibatalkan, lantaran dianggap menciptakan biaya baru.

"Untuk apa ditunda kalau itu membuat ketidakpastian dunia usaha. Lebih baik dibatalkan. Alasannya satu karena merugikan, baik produsen maupun pembeli yang harus bayar fee. Ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi, terutama industri makanan minuman," jelas Iwantono, kepada detikFinance, di Jakarta Jumat (29/9/2017).


Beban biaya tersebut, kata dia, tentunya bisa dibebankan ke konsumen. Menurutnya, penunjukkan perusahaan yang menggarap lelang GKR juga kurang transparan.

"Kebutuhan gula rafinasi 2,5 juta ton, berapa fee-nya? Itu angka yang sangat besar. Sementara yang terima fee itu siapa dan untuk apa? Sementara perusahaan sendiri baru dibentuk, pengalaman belum ada, tapi akan mendapatkan penghasilan besar, jadi timbul tanda tanya," ujar Iwantono.

Selain industri besar dan menengah, sambungnya, usaha kecil dan menengah (UKM) juga tak luput terbebani dengan kewajiban pembelian lewat lelang tersebut.


"UKM misalnya harus beli 1 ton atau 5 ton. Padahal UKM seperti dodol paling hanya butuh 1 kuintal. Sudah begitu bayar harus di muka, bayar dulu di depan baru ikut lelang. Kalau sebelumnya mereka bisa kredit dulu, setelah produk laku baru dibayar," tuturnya.

Diungkapkannya, banyak pula industri yang sudah mengikat pembelian kontrak pembelian GKR jangka panjang. Namun kemudian harus diwajibkan beralih ke sistem lelang.

"Pabrik-pabrik banyak yang sudah lebih dulu kontrak dengan produsen gula rafinasi untuk 2 tahun ke depan. Lalu kemudian harus ikut lelang dan bayar fee, ini kan kurang fair. Sementara kondisi ekonomi saat ini sedang wait and see, kalau kebijakan seperti ini pengusaha enggan investasi," tandas Iwantono.


Seperti diketahui, pasar lelang gula kristal rafinasi merupakan pasar lelang elektronik yang menggelar transaksi jual beli gula kristal rafinasi secara online dan real time dengan metode permintaan beli (Bid) dan penawaran jual (Offer). Adapun, volume penjualan atau pembelian sebanyak 1 ton, 5 ton, dan 25 ton.

[Gambas:Video 20detik]

Melalui Surat Keputusan Menteri Perdagangan No. 684/M-DAG/KEP/5/2017 tentang Penetapan Penyelenggara Pasar Lelang Gula Kristal Rafinasi, Kemendag menunjuk PT Pasar Komoditas Jakarta (PKJ) sebagai penyelenggara pasar lelang gula kristal rafinasi perdana itu.

Saat ini, kebutuhan gula rafinasi setiap yang mencapai 3 juta ton, dilakukan dengan pembelian kontrak langsung ke produsen gula rafinasi. Versi Kemendag, sistem pembelian kontrak ini dirasa tak adil bagi UKM lantaran mereka sulit membeli langsung dari produsen, sehingga mereka harus membelinya dari distributor atau pihak kedua yang lebih mahal.

Gula rafinasi yang beredar di pasaran dijual Rp 12.500-13.000/kg, sementara jika mendapatkannya langsung dari pabrik secara langsung harganya hanya di kisaran Rp 8.500/kg. (idr/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed