Timur Tengah dan Afrika bisa menjadi pasar potensial karena warganya memiliki tingkat konsumsi kopi dan teh cukup tinggi. Contohnya saja Maroko, warganya sangat hobi minum teh dan kopi, namun di negara tersebut tidak ada satupun pohon kopi dan teh.
"Jadi kita akan tawarkan kopi dan teh. Di Maroko itu warganya penghobi kopi. Tapi tidak ada pohon teh dan kopi," kata Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawanan, saat membukan Indonesia Midle East Annual Gathering on Economy, di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (9/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kabar gembira. Teh di Jabar ini banyak, 70 persen produksi nasional itu berasal dari Jabar," ucap pria yang akrab disapa Aher ini.
Untuk kopi, Aher mengungkapkan Jawa Barat memang belum menjadi produsen kopi terbesar di Indonesia, namun kualitas kopi asal Jabar merupakan terbaik di dunia.
"Untuk (produksi) kopi memang belum banyak, tapi kopi kita paling baik. Enam kopi terbaik di dunia itu adanya di Jabar," ucapnya.
Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Perkebunan Jabar, Arif Santosa, menyatakan potensi ekspor kopi Jawa Barat ke negara Timur Tengah dan negara lainnya memang cukup besar. Akan tetapi perlu ada peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar.
"Karena kita untuk memenuhi kebutuhan masih kurang. Ada yang kita ekspor tapi khusus kopi spesial (dan belum terlalu banyak)," ujar Arif. (hns/hns)











































