Follow detikFinance
Selasa, 20 Mar 2018 19:31 WIB

Begini Cara Kemenperin Buat Garam Lokal Bisa Diserap Industri

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Muhammad Idris Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Pemerintah terus mendorong pembuatan peta jalan (roadmap) mengenai peningkatan kualitas proguk garam nasional agar bisa memenuhi kebutuhan sektor industri.

Saat ini pemerintah memenuhi kebutuhan garam khusus industri berasal dari impor. Pada tahun 2018 ditetapkan volume impor sebesar 3,7 juta ton.

Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan roadmap ini menyangkut tentang perluasan lahan tambak dan peningkatan produksi garam nasional.

"Leadingnya di Kemenko Kemaritiman, kita sudah ada roadmapnya untuk garam lokal," kata Sigit di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (20/3/2018).


Dalam roadmap tersebut, pemerintah melakukan perluasan lahan tambak garam petani lokal. Salah satunya di Nusa Tenggara Timur sebesar 3.000 hektar, dan lahanya sedang disiapkan oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR).

"Kalau itu bisa tercapai bisa menghasilkan 300.000 ton, dan sekaligus di sana dibangun industri pencuciannya," jelas dia.

Dalam roadmap garam nasional juga pemerintah berupaya meningkatkan kualitas garam yang diproduksi oleh petambak lokal. Saat ini, kualitasnya baru berada di level 94% NaCL dan untuk memenuhi kebutuhan industri harus ditingkatkan menjadi 97%.


Peningkatan kualitas juga akan dikerjasamakan dengan industri pengolahan garam industri. Salah satu perusahaan yang sudah siap adalah United Chemical yang berdomisili di Surabaya.

Rendahnya kualitas garam petambak lokal dikarenakan lahan produksinya masih terbatas, yakni hanya sekitar 1-2 hektar. Berbeda dengan di negara-negara seperti Australia yang lahannya bisa mencapai 10.000 hektar.

"Kita itu punya lahannya cuma 1-2 hektar, sehingga dia tidak mungkin memproses melalui tahap penyaringan, pengendapan. Jadi satu ladang garam ya dipakai pengendapan, ya dipakai pengkristalan," ujar dia.


Sementara Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk mengatakan NTT menjadi lokasi yang berpotensi untuk menjadi ladang produksi garam nasional karena memiliki musim panas yang lebih lama dibandingkan wilayah lain.

"Kalau menuju ke swasembada memang harus ekstensifikasi, memungkinkan NTT yang punya musim kering 6-7 bulan," kata Tony.

Diketahui, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menginginkan Indonesia bisa swasembada garam pada 2019.

Hal ini menurutnya bisa dikejar dengan memaksimalkan potensi lahan garam yang saat ini sudah ada maupun yang belum dioptimalkan. Ada 40.000 hektar lahan garam yang tersebar di seluruh Indonesia. Total lahan itu mencakup jumlah eksisting dan yang belum diekstensifikasi.

Selain menyasar potensi lahan di luar Jawa, pemerintah juga akan meningkatkan produksi garam di sentra-sentra garam eksisting di pantai utara jawab (pantura) hingga Pulau Madura. (zul/zul)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed