Follow detikFinance
Jumat, 20 Apr 2018 16:37 WIB

Pakai Alat Sangrai, Warga Pedalaman Sulsel Bisa Jualan Kopi Bubuk

Widiya Wiyanti - detikFinance
Foto: Widiya Wiyanti/detikcom Foto: Widiya Wiyanti/detikcom
Bulukumba - Kopi merupakan sumber penghasilan utama bagi masyarakat pedalaman Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Masyarakat beberapa kampung di Lingkungan Benteng Senggang, Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang hampir semua memiliki perkebunan kopi, bahkan dicampur dengan cengkeh dan coklat.

Selama ini mereka mengeluh kopi yang dihasilkan hanya dijual dalam bentuk bijian bukan dalam bentuk bubuk. Ini karena keterbatasan alat sangrai biji kopi.

Menyikapi kondisi itu, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH) Makassar mengembangkan alat sangrai biji kopi sehingga bisa membantu masyarakat meningkatkan nilai jual dalam bentuk kopi bubuk.

Baru satu bulan belakangan ini Balitbang KLH Makassar memberikan alat sangrai itu untuk digunakan oleh masyarakat setempat. Beberapa masyarakat yang sudah mencoba pun, seperti Suryani (35) mengakui bahwa alat tersebut sangat membantu.


"Capek kalau pakai kuali (manual), kalau ini santai-santai. Pakai ini 30-40 menit, kalau pakai kuali lebih dari satu jam," ujarnya.

Dengan menggunakan alat sangrai tersebut, masyarakat bisa memproses kopi hingga menjadi bubuk dengan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan hanya dalam bentuk biji atau yang mereka sebut 'pecok'.

Maka dari itu, bisnis kopi masyarakat pun akan meningkat. Kopi yang dijual dalam bentuk biji atau 'pecok' ini memiliki harga jual Rp. 12.000 per liter, sedangkan harga jual kopi dalam bentuk bubuk bisa dua kali lipat lebih tinggi.


"Kalau dijadikan bubuk kopi itu lebih tinggi lagi, bubuknya sekarang per liternya bisa Rp. 25.000," ujar Ramli (42).

Ramli menyebutkan bahwa satu liter kopi dalam bentuk biji bisa diproses menjadi dua liter kopi bubuk. Sedangkan setiap masyarakat memiliki perkebunan kurang lebih seluas satu hektar.

Jika setiap masyarakat bisa memproses kopi hingga menjadi bubuk dan tidak bergantung pada pabrik-pabrik di perkotaan serta bisa dijual dengan harga tinggi, maka masyarakat di pedalaman ini bisa lebih sejahtera. (wdw/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed