Follow detikFinance
Kamis, 17 Mei 2018 17:22 WIB

Alasan Pengusaha Minta Pemerintah Atasi Serbuan Keramik China

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) meminta perlindungan pemerintah terhadap gempuran keramik impor China. Menurut Ketua Umum Asaki Elisa Sinaga, telah meminta penerapan safeguard kepada Komisi Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI), lembaga di bawah Kementerian Perdagangan.

Safeguard adalah kebijakan pemerintah negara pengimpor untuk memulihkan kerugian atau mencegah kerugian akibat serbuan impor produk sejenis yang juga diproduksi industri dalam negeri. Salah satu caranya dengan menaikkan bea masuk impor.

Menurut Elisa safeguard terhadap industri keramik perlu dilakukan karena pasokan keramik impor meningkat rata-rata 22%/tahun, dan mayoritas dari China.

"Safeguard itu diajukan satu karena ada persyaratan utama bahwa safeguard bisa diajukan kalau impor kita naik dan memang naik. Waktu itu kita ajukan dari data tiga tahun terakhir 2014, 2015, dan 2016 dan data tiga tahun terakhir memang meningkat sebenarnya dari 2013 setiap tahun rata-rata 20% kalau nggak salah 22% lebih banyak dari China," terang Elisa kepada detikFinance, Kamis (17/5/2018).


"Kedua berdasarkan peningkatan impor ada injury, terganggu. usaha keramik industri terganggu dalam kondisi pasar belum membaik dan makin diperburuk dengan impor yang meningkat jadi porsi lokal masih diteruskan nah saat itu sampai 2017 peningkatan impor keramik masih ada bea masuk sebesar 20%. Tapi per 1 Januari 2018 karena ada ASEAN-China Free Trade Area ya biaya masuk keramik dari China diturunin dari 20% jadi 5%," sambungnya.

Elisa mengatakan serbuan keramik impor, khususnya dari China akan meningkat jika pemerintah tidak menerapkan safeguard.

"Jadi kalau dilihat kemungkinan peningkatan impor keramik terlihat akan menjadi kondisi yang dibenarkan. Jadi kami mendorong pemerintah serius ada safeguard biar industri dalam keramik ini bisa terbantukan," tutur Elisa. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed