"Berdasarkan data BPS nilai ekspor perkebunan 2016 itu US$ 25,5 miliar atau Rp 341,7 triliun. Nah 2017 meningkat 26,5% sebesar US$ 31,8 miliar atau Rp 432,4 triliun," katanya di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (5/6/2018).
Bambang melanjutkan, ada 8 komoditas utama yang ikut mendorong kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi 2017, yakni kelapa, karet, kelapa sawit, kopi, teh, pala, tembakau, dan kakao.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk komoditas kelapa, nilai ekspor meningkat 19,1% dari Rp 15,3 triliun di 2016 menjadi Rp 18,3 triliun di 2017. Nilai ekspor karet meningkat 17,8% dari Rp 48,81 triliun menjadi Rp 68,29 triliun.
"Yang paling utama sawit kita meningkat 25,8% dari Rp 241,9 triliun menjadi Rp 307,4 triliun. Kalau kopi kita meningkat 17,8% dari Rp 13,42 triliun jadi Rp 15,89 triliun," sambungnya.
Kemudian, komoditas teh meningkat sebesar 0,99% dari Rp 1,51 triliun menjadi Rp 1,53 triliun, komoditas pala meningkat 19,1% dari Rp 1,20 triliun menjadi Rp 1,46 triliun, dan tembakau sebesar 2,98% dari Rp 1,71 triliun menjadi Rp 1,77 triliun.
"Kalau kakao, nilai ekspornya menurun 9,0% dari Rp 16,49 triliun menjadi Rp 15,00 triliun. Tapi dari segi volume bertambah dari 330,03 ribu ton jadi 354,88 ribu ton," tegasnya.
Sementara itu, produk domestik bruto (PDB) perkebunan dar 2015 hingga 2017 meningkat 5,7% ke 9% serta mengungguli PDB minyak, gas dan panas bumi.
"Tahun 2015 itu tanaman perkebunan kontribusinya Rp 405,29 triliun lalu 2016 Rp 428,78 triliun dan 2017 Rp 471,31 triliun," tutupnya. (hns/hns)