Follow detikFinance
Rabu, 11 Jul 2018 20:54 WIB

Dolar AS Perkasa, Pengusaha Putar Otak Pasok Obat untuk BPJS

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Dikhy Sasra Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah membuat pengusaha obat khawatir, apalagi bagi perusahaan yang memasok obat untuk BPJS Kesehatan.

Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi GP Farmasi Indonesia, Vincent Harijanto mengatakan, sebanyak 95% bahan baku industri farmasi masih impor. Sekitar 90% produk impor dipasok dari China dan India

Sementara itu biaya impor bahan baku farmasi dalam dolar AS.


"95% bahan baku farmasi kita masih impor, tentunya membicarakan kurs," ujar Vincent dalam diskusi 'Stabilitas Kurs Ganggu Pertumbuhan Ekonomi?'di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Masalahnya, kata Vincent, ada beberapa pengusaha yang memasok obat untuk BPJS Kesehatan, dan sesuai kontrak obat yang dijual tak bisa dinaikkan atau disesuaikan harganya.


"Kita bahas bagaimana suplai industri farmasi kepada BPJS, harga sudah dipatok, jadi tidak mungkin, ini menyebabkan kebingungan," tambah Vincent.

Di luar itu, dia mengatakan, sebagian produsen obat masih pikir-pikir untuk menaikkan harga, sebab masih mengutamakan untuk efisiensi.


Vincent menambahkan masalah industri farmasi bukan hanya penguatan nilai tukar dolar AS, melainkan juga China sebagai produsen bahan baku menerapkan proteksi pada lingkungan.

"Kalau tadi kurs, di China sendiri diperlakukan proteksi environmental yang menyebabkan harga harus naik. Kalau misalnya ada limbah tidak terkontrol harus membenahi itu, kalau tidak harus pindah," terang Vincent. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed