Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 14 Agu 2018 19:27 WIB

Lahan Jadi Kendala RI Capai Swasembada Garam

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Achmad Dwi/detikFinance Foto: Achmad Dwi/detikFinance
Kupang - Indonesia saat ini masih mengimpor garam khususnya untuk memenuhi kebutuhan industri. Pemerintah saat ini sedang memutar otak untuk memenuhi kebutuhan garam tersebut. Lantas, kapan Indonesia swasembada garam?

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menjelaskan, untuk mencapai swasembada garam pemenuhan lahan menjadi hal yang penting.

"Saya harapkan ini lahan-lahannya penting, seperti di Jawa pun ada, lahan kita juga Madura kita ada, cuma jumlahnya tidak besar, karena lahan di Jawa sudah sulit," ujarnya di Desa Bipolo Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (14/8/2018).


Dia melanjutkan, di Nusa Tenggara Timur (NTT) potensi lahan untuk pengembangan produksi garam besar. Selain lahan yang masih luas, kualitas bahan baku juga memadai.

Rini mengatakan, jika penambahan lahan tersebut terus dilakukan maka swasembada bisa tercapai.

"Nah kalau kita lihat di NTT lahannya masih besar. Jadi saya harapkan kalau kita betul-betul bisa kembangkan optimal karena setelah kita lihat hasilnya di sini sebenarnya area di NTT ini di sebagian pantai ini sangat bagus. Jadi InsyaAllah kalau program ini kita bisa kembangkan lebih lanjut, bekerja sama dengan petani garam di sini kita bisa mencapai moga-moga swasembada," jelasnya.



Rini mengatakan, ada 2.000 ha lahan terlantar di NTT. Rini bilang, dirinya mengusulkan agar lahan tersebut bisa dikelola.

"Kami sedang mengusulkan juga kepada Kementerian ATR dan kami ingin bicara dengan gubernur terpilih, karena ini ada 2.000 hektar lahan terlantar. Nah ini kalau bisa kita manfaatkan dengan program inti plasma. Sebagian masyarakat di sini belum punya lahan, jadi mereka kalau kita bikin inti plasma mereka bisa dapat lahan juga," jelasnya.

Direktur Utama PT Garam (Persero) Budi Sasongko mengatakan, kebutuhan garam nasional tiap tahunnya 4,2 juta ton untuk garam konsumsi dan industri. Untuk memenuhinya, diperlukan lahan minimal 40 ribu ha.

"Sementara data KKP ada milik PT Garam yang di Madura 5 ribu ha dan plus nasional hanya 30 ribu ha. Jadi harus membuka lagi minimal 15 ribu ha. Itu baru swasembada," jelasnya.

Terkait swasembada, dia mengatakan, terbagi menjadi dua jenis yakni swasembada garam konsumsi dan industri. Dia mengatakan, untuk garam konsumsi sebenarnya sudah swasembada karena kebutuhannya hanya 750 ribu ton.

"Kebutuhan konsumsi rumah tangga 750 ribu, Indonesia sudah (produksi) 2,5 juta-3 juta ton kalau musim normal," tutupnya.

Sementara, untuk garam industri masih impor. "Untuk industrinya pasti masih impor," tutupnya.


Saksikan juga video ' Penggerebekan Gudang Penimbunan 40 Ribu Ton Garam Impor ':

[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed