Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 03 Sep 2018 16:20 WIB

Perajin Tempe Ngaku Keuntungan Turun 20% karena Dolar AS Naik

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikcom
Jakarta - Harga kedelai, bahan baku tempe, ikut melonjak gegara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap rupiah. Menyikapi kondisi ini perajin memilih tak menaikkan harga maupun mengubah ukuran tempe agar tak kehilangan konsumen, meski biaya produksi naik.

Arifin masih menjual tempe seharga Rp 5.000 per 20 cm. Alhasil, dia harus menerima kenyataan tempe keuntungannya turun.


"Ada turun sekitar 15-20% tiap harga kedelai naik," kata Arifin, perajin tempe di kawasan Sentiong, Jakarta Pusat, kepada detikFinance, Senin (3/9/2018).

Menurut Arifin harga kedelai saat ini naik Rp 200. Kedelai kualitas super Rp 8.000 naik menjadi Rp 8.200, Kualitas 2 dari Rp 7.600 naik jadi 7.800.


Kualitas 3 dari Rp 7.400 naik jadi Rp 7.600, dan kualitas 4 dari Rp 7.300 jadi Rp 7.500. Arifn memilih tak beralih ke kedelai yang kualitasnya di bawah super karena konsumen sudah terbiasa.

"Sekarang malah kualitas super naik dari Rp 8.000/kg jadi Rp 8.200/ kg setiap jenis naik Rp 200- itu juga kalau Rp 200 dikali 700 kilo sudah Rp 140.000 belum ongkos angkutnya itu kan pakai biaya sendiri dan nombok" jelasnya.


Sebagai informasi harga kedelai terpengaruh dolar AS karena masih impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai impor kedelai US$ 55,6 juta ton dengan volume 132.427 ton. Impor kedelai mayoritas dari AS. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed