Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 06 Sep 2018 11:47 WIB

Dolar AS 'Ngamuk' Bikin Harga Mie Naik? Ini Kata Bos Indofood

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Franciscus Welirang Foto: Dokumen http://www.franciscuswelirang.com Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Franciscus Welirang Foto: Dokumen http://www.franciscuswelirang.com
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sudah nyaris mendekati angka Rp 15.000. Angka ini tentu memberatkan bagi beberapa industri makanan seperti mie.

Bos pabrik Indomie atau CEO PT Indofood Franciscus Welirang mengatakan hingga saat ini belum ada kenaikan harga untuk produk Indomie. Pasalnya saat ini perusahaan masih memiliki uang simpanan.

Dengan begitu, kenaikan dolar AS tidak mempengaruhi harga jual Indomie karena dibebankan kepada perusahaan.

"Harga Indomie tidak ada hubungan langsung (dengan kenaikan dolar AS) karena Indomie adalah branded product. Karena ada cost saving juga," kata dia kepada detikFinance, Kamis (6/9/2018).



Walaupun begitu, Franciscus mengakui memang ada kenaikan harga bahan baku mie, yakni gandum yang sampai saat ini masih 100% impor.

"Kalau terigu ada dampak langsung dan saya kira sudah naik beberapa kali," imbuh dia.



Sementara itu, Lembaga riset global Nielsen menilai dampak penguatan dolar AS akan mengancam harga komoditas mie dan rokok. Sebab bahan baku komoditas tersebut masih impor.

"Noddle (mie) karena bahan bakunya gandum, gandum itu 100% impor. Rokok, tembakau burley impor, yang lokal 30-40%," kata Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin baru-baru ini.



Saksikan juga video 'Dolar Tembus Rp 14.900, Ini Permintaan DPR ke Pemerintah':

[Gambas:Video 20detik]

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com