Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 07 Sep 2018 12:08 WIB

Importir Bantah Impor Mobil Mewah Bikin Rupiah Loyo, Ini Alasannya

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Pradita Utama Foto: Pradita Utama
Jakarta - Impor mobil mewah dianggap sebagai salah satu penyebab rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun importir mobil mewah menilai dampaknya tidak signifikan.

"Ngiranya ini dunia Ferrari dan Lamborghini yang buat dolar naik, padahal itu hampir tidak ada impact-nya," kata Presiden Direktur Prestige Image Motorcars Rudy Salim kepada detikFinance, Jakarta, Jumat (7/9/2018).

Dia menyebut dalam setahun, mobil mewah yang diimpor ke Indonesia angkanya tidak sampai 50 unit, sehingga dampaknya ke pelemahan rupiah nyaris tidak ada.


"Jauh di bawah itu deh (di bawah 50 unit). Intinya kan bukan hanya saya yang masukin, tapi saya yakin di bawah itu, jauh di bawah 50, mungkin di bawah 30. Kalau dari total keseluruhan mungkin di bawah 30 yang masuk Indonesia," sebutnya.

Justru dia menilai melemahnya rupiah lebih karena Indonesia masih ketergantungan impor bahan baku dan bahan modal. Hal itu membuat defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD) menjadi tinggi.

"Kan dolar saat ini disebabkan perang tarif karena hampir semua bahan baku kita mungkin 70% impor, bahan modal 20% impor, dan selebihnya baru barang mewah kecil sekali," ujarnya.


"Kalau saya bergerak di supercar, itu benar benar sangat kecil sekali, tiap tahun itu bisa dihitung dengan jari, kalau untuk supercar ya, tipe Lamborghini, dan Ferarri, McLaren, itu benar benar kecil sekali permintaannya," tambahnya.

Untuk diketahui, demi mengendalikan impor mobil mewah, pemerintah telah menaikkan pajak impor. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 untuk kategori barang mewah naik dari 7,5% menjadi 10%.


Saksikan juga video 'Pajak Impor 1.174 Barang Konsumsi Naik Hingga 10%':

[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed