Dolar AS 'Ngamuk', Perajin Tahu di Kudus Kurangi Ukuran

Imam Suripto, Akrom Hazami - detikFinance
Jumat, 07 Sep 2018 16:42 WIB
Foto: Akrom Hazami
Kudus/Brebes - Perajin tahu di Kabupaten Kudus saat ini terimbas dengan lemahnya posisi rupiah terhadap dolar AS. Dalam kondisi itu, mereka menyiasatinya dengan mengurangi ukuran tahu.

Koordinator produksi salah satu produksi tahu di RT 4/RW 2, Desa Pedawang, Kecamatan Bae, Nur Imronah, menjelaskan saat ini industri tahu menjadi satu di antara yang terdampak karena melemahnya nilai rupiah.

"Ya disiasati dengan mengurangi ukuran produksi tahu dibanding biasanya," kata Nur di tempat kerjanya, Jumat (7/9/2018).

Itu dilakukan sebagai bentuk menyiasati kondisi kenaikan biaya produksi. Mengingat jika upaya penyiasatan tak ditempuh, maka pelaku usaha akan rugi. Maka solusi pengurangan ukuran produksi tahu dilakukan.

Hal itu dilakukan pula oleh sesama pelaku usaha pembuatan tahu. Pihaknya tak memberlakukan kenaikan harga tahu. Sebab dampaknya adalah menurunnya daya beli tahu. Terlebih untuk menaikkan harga perlu ada rapat antar anggota paguyuban pengusaha tahu dan tempe.

"Harga tahu masih dijual Rp 25 ribu per kotak yang berisi 50 tahu. Tidak naik harganya," imbuh Nur.

Pengusaha Tahu di KudusPengusaha Tahu di Kudus Foto: Akrom Hazami




Dia menuturkan di tempatnya bekerja ada 20 karyawan. Setiap hari rata-rata membutuhkan 72 kilogram kedelai untuk menghasilkan 60-70 kotak atau setara 3.000-3.500 tahu.

"Tahu dijual di Demak dan sekitarnya," katanya.

Pengusaha Tahu Gunakan Kedelai Dengan Harga Lama

Naiknya harga kedelai akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belum dirasakan dampaknya oleh sebagian pengusaha tahu. Di Brebes, Jawa Tengah, bahkan ada pengusaha tahu yang masih membeli kedelai dengan harga lama.

Saat sebagian pengusaha tahu dan tempe mengeluhkan naiknya harga kedelai, Rukun Kurnia (47), pengusaha tahu asal Kelurahan Pasarbatang, Brebes ini justru masih membeli kedelai dengan harga lama. Produk tahu yang dihasilkan juga masih menggunakan harga lama alias tidak ada penyesuaian.

Saat ditanya soal kenaikan harga kedelai akibat melemahnya nilai tukar rupiah, Rukun Kurnia ini bahkan mengaku tidak tahu.

"Kapan ada kenaikan harga kedelai? Harganya masih pakai harga lama, tidak ada perubahan," tutur Rukun Kurnia, saat ditemui di tempat pembuatan tahu, Jumat (7/9/2018) siang.

Saat ini, pengusaha tahu Sumedang ini masih membeli kedelai dengan harga Rp.7400 per kg. Kedelai itu didapat dari pedagang yang menjadi langganannya selama ini. Dalam sehari, pabrik tahu ini bisa menghabiskan kedelai sebanyak 150 kg.

Padahal, saat ini harga kedelai di pasaran sudah mengalami kenaikan menjadi Rp.7600 per kg sebagai dampak menguatnya dolar Amerika. Menurut Kurnia, harga beli kedelai Rp7400 ini tidak berubah semenjak terjadi kenaikan beberapa bulan silam.

Harga jual tahu produksinya pun belum juga dinaikkan. Satu loyang berisi 160 butir tahu goreng Sumedang siap makan dibanderol Rp 27 ribu.

"Tapi kalau harga kedelai mulai naik, sudah pasti harga tahu akan ikut naik. Tapi sampai hari ini masih harga biasa," imbuh Kurnia.

Sejumlah pedagang eceran tahu Sumedang di Brebes juga sampai hari ini belum melakukan penyesuaian harga. Mereka baru akan menaikkan harga manakala terjadi perubahan harga dari pabriknya.

"Saya sih tergantung dari pabriknya. Kalau dari sana naik, saya juga akan ikut naik. Tapi sampai sekarang masih harga lama. Saya jual satu bungkus isi 10 biji Rp 2000," kata Pujianto, salah seorang pedagang tahu eceran.

Pengusaha Tahu Masih Gunakan Kedelai Dengan Harga LamaPengusaha Tahu Masih Gunakan Kedelai Dengan Harga Lama Foto: Imam Suripto


(eds/eds)