Follow detikFinance
Jumat, 07 Sep 2018 17:15 WIB

Rupiah Terpukul, Pengusaha Kedelai dan Tempe di Banten Mengeluh

Bahtiar Rivai - detikFinance
Foto: Bahtiar Rivai Foto: Bahtiar Rivai
Serang - Kenaikan kurs dolar atas rupiah dikeluhkan oleh pengusaha kedelai dan tempe. Pasalnya, pasokan kedelai impor membuat mereka menaikkan harga jual ke pembeli.

Bahaudin misalnya, penjual kedelai untuk kawasan Kota Serang harus menaikkan harga kedelai per kilogram. Kenaikan bahkan sampai kisaran Rp1000.

"Sebelum dolar naik dulu jual Rp 6,400. Sekarang kita jual Ro 7.400 per kilo," kata Bahaudin kepada detikcom, Kota Serang, Banten, Jumat (7/9/2018).



Tapi, kenaikan harga ini menurutnya tidak sekaligus. Per dua minggu lalu, ia menjual sekitar Rp 7.200 per kilo. Kenaikan ini, ia mengatakan dipengaruhi oleh kurs rupiah atas dolar. Apalagi, kedelai yang ia dapat adalah impor dari Amerika.

"Ini semuanya impor, saya setiap hari mengambil dari distributor di pelabuhan di Cilegon bisa 10-20 ton," ujarnya.

Sementara itu, Tanwiri, pengusaha tempe dan tahu di Kota Serang juga mengeluhkan hal yang sama. Harga kedelai yang tinggi membuat para pengusaha tempe harus menurunkan kualitas tempe dan tahu.

"Yang kewalahan tukang tempenya. keuntungan dia mengurang karena keambil untungnya untuk beli kacang kedelai," ujarnya.

Jika perhari ia bisa menghasilkan 300 potong tempe ukuran 50 sentimeter, dengan kenaikan harga ini, ia mengaku harus mengurangi produksi.

"Harapannya pemerintah harus menurunkan dolar. Usaha kecil begini kan kewalahan. Kalau tempe dari awal harganya ya segitu aja, kualitas kita turunin kadang pembeli rewel juga," ujarnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed