Bio Farma Genjot Ekspor Vaksin US$ 71 Juta

Bio Farma Genjot Ekspor Vaksin US$ 71 Juta

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 13 Sep 2018 19:55 WIB
Bio Farma Genjot Ekspor Vaksin US$ 71 Juta
Foto: Firdaus Anwar
Jakarta - PT Bio Farma (Persero) memperkirakan ekspor sampai 2018 bisa mencapai US$ 71,6 juta. Vaksin yang akan diekspor pada bulan September sampai dengan Desember, terdiri dari Vaksin Polio, Campak, TT, DTP, Td, untuk negara- negara berkembang seperti Pakistan, Afganistan, Sudan, Maroko dan negara lainnya.

"Produk akhir Vaksin yang didistribusikan melalui lembaga Internasional UNICEF, PAHO; dan melalui Bilateral dalam bentuk bulk vaksin atau intermediate produk yang nantinya akan di formulasi dan dikemas menjadi produk akhir vaksin. Beberapa produsen yang membeli bulk antara lain lima produsen vaksin di India, satu produsen di Afrika Selatan dan satu produsen vaksin di Bangladesh. Jenis bulk yang diekspor seperti bulk Polio, Tetanus, Difteri, Pertusis, Campak" ungkap Direktur Utama Bio Farma M. Rahman Roestan dalam keterangan tertulis, Kamis (13/9/2018).

Ia menambahkan, ekspor Bio Farma dilakukan melalui lembaga internasional dan bilateral antar sejumlah negara. Langkah ekspor juga dilakukan dengan menggandeng sejumlah agen di Afrika Selatan hingga Meksiko.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat ini pasar ekspor Bio Farma memiliki dua segmen, yaitu pengadaan melalui lembaga Internasional UNICEF, Pan American Health Organization (PAHO), serta melalui Bilateral, pembelian langsung dari beberapa produsen vaksin di luar negeri seperti India, Mesir, serta beberapa agen atau distributor di Afrika Selatan, Thailand, Turki, Mexico dan negara lainnya," ujarnya.


"Kami terus berkoordinasi dengan beberapa lembaga Internasional, pada awal Oktober 2018, Bio Farma diundang oleh UNICEF dalam pertemuan tahunan industri vaksin, di Copenhagen, Denmark, yang bertujuan untuk pemutakhiran informasi kebutuhan dan forecasting penyediaan vaksin dalam lima tahun mendatang, produk apa saja yang dibutuhkan di dunia saat ini dan 10 tahun ke depan," tambahnya.

Bio Farma juga melakukan pertemuan dengan pelanggan untuk mengetahui kebutuhan terkini. Dengan demikian, pasokan vaksin diharapkan bisa terpenuhi.

"Selain itu juga untuk mengupdate aspek regulasi internasional, dan Bio Farma melakukan pertemuan langsung dengan customer untuk mendapat feedback terhadap kebutuhan dan memperkirakan kemampuan supply vaksin Bio Farma" tambah Rahman.

Ke depan Bio Farma terus mempersiapkan riset-riset vaksin untuk pemenuhan kebutuhan global seperti pada 13 September ini, Bio Farma juga gelar Forum Riset Life Science Nasional (FRLN). Forum yang dibentuk sejak 2011 sinergi dengan Kemenristek Dikti, Lembaga Riset, Universitas dan Kementerian Kesehatan;bertujuan untuk melakukan pengembangan vaksin dan produk Life Science baru dalam negeri untuk kemandirian riset nasional.


Sebanyak 12 konsorsium dan Working Group riset, yaitu Human Immunodeficiency Virus (HIV), Hepatitis B, Human Papillomavirus (HPV), Stemcell, Eritropoetin (EPO), Tuberculosis (TBC), Demam Berdarah (Dengue), Influenza, Malaria, Rotavirus, Stem Cell, Pneumococcus dan Delivery System. Diharapkan hasil riset dan pengembangan ini dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan untuk capai kemandirian.

Saat ini hanya sekitar 30 produsen vaksin yang sudah mendapatkan kualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) salah satunya Bio Farma,

"Kami merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dilihat dari jenis produk dan kapasitas, serta menjadi rujukan centre of excellence bagi produsen vaksin di negara Islam. Sebagai BUMN memiliki peran yang sangat strategis untuk turut serta melakukan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, dalam upaya percepatan dan kemandirian pengembangan produk biopharmaceutical dan vaksin," katanya.

"Dengan total kapasitas produksi lebih dari 2 miliar dosis per tahun. Komposisi produksi tersebut adalah masing-masing 60% untuk kebutuhan dalam negeri dan 40% untuk kebutuhan ekspor". (ara/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads