Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 17 Nov 2018 14:10 WIB

Terbang Lagi, Merpati Jangan Lupakan Rute ke Kawasan Terpencil

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta - PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) siap terbang lagi setelah Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya mengabulkan proposal perdamaian. Saat kembali terbang, Merpati diharapkan bisa tetap jadi andalan di rute-rute perintis seperti dulu.

Mantan Komisaris Utama Merpati Said Didu menyarankan, Merpati mulai terbang lagi dari Papua.

"Memulailah dari remote area, jangan dari kota. Saya katakan Papua itu harus menjadi titik awal lagi karena sebenarnya teman teman Papua ini naik pesawatnya kan pesawat ke Papua kadang-kadang sama dengan harga pesawat naik umrah kan," katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (17/11/2018).

Menurutnya, remote area seperti Papua harus menjadi prioritas Merpati.

"Jadi saya pikir moto yang harus dibangun lagi Merpati adalah tetap menjadi jembatan Nusantara. Ini adalah lahirnya kembali Merpati sebagai jembatan udara Nusantara," sebutnya.



Dirinya memahami, dari sisi bisnis, masuk ke rute-rute yang sudah matang akan lebih menguntungkan. Hal itu bisa saja jadi kombinasi tanpa harus melupakan rute perintis.

"Untuk mendapatkan cash lebih cepat adalah masuk pasar yang sudah matang. Jadi bisa saja kombinasi antara pasar yang sudah ada dengan menambahkan pesawat dengan membuka pasar baru. Tapi saya tetap menitip kalau dia mau sustainable maka dia harus tetap fokus ke remote di ujung ujung," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo juga sependapat. Namun, perlu ada campur tangan pemerintah agar Merpati bisa tetap fokus di rute-rute perintis.

"Sebaiknya Merpati fokus rute remote area yang jadi core business mereka. Makanya dalam konteks ini support pemerintah dalam konteks angkutan perintis penting. Aksesibilitas remote area kan tanggung jawab pemerintah," jelasnya.

Menurutnya dalam hal itu bisa saja nanti Merpati bekerja sama dengan Pemda setempat untuk menciptakan konektivitas.

"Selama ini kan ada dua model, perintis sama model perjanjian dengan Pemda. Pemerintah punya mapping mana yang harus perintis, mana yang kerja sama dengan Pemda. Tapi intinya kehadiran Merpati mestinya membuka akses makin luas terhadap akses mobilitas," lengkapnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed