Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 09 Des 2018 15:30 WIB

Cerita Sulitnya Bikin Traktor 'Hantu', Komponen Sempat Terbakar

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance Foto: Puti Aini Yasmin/detikFinance
Jakarta - Banyak hal bisa terjadi saat melakukan sebuah percobaan apa lagi yang berkaitan dengan pembuatan perangkat mesin dan sistem elektronik.

Kegagalan sistem hingga berujung terbakarnya komponen elektornik menjadi hal yang umum dihadapi para peneliti ketika ingin menciptakan perangkat baru.

Hal serupa dialami para perekayasa Atunomus, traktor 'hantu' yang saat ini dikembangkan pihak Kementerian Pertanian untuk menarik minat kaum milenial untuk mau bertani.

Autonomus diciptakan bisa bergerak sendiri dan juga bisa dikendalikan dari jarak jauh.


Ditemui di Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Kepala Bidang Kerjasama dan Pemberdayaan Hasil Perekayasa Agung Prabowo mengatakan, para peneliti sempat mengalami kendala saat melakukan pemasangan komponen yang bisa membuat traktor tersebut bisa dikendalikan dari jarak jauh.

Komponen itu pun rusak dan terbakar sehingga membuat peneliti harus merancang ulang sistem pengendali Autonomus.

Namun, Agung mengatakan, para perekayasa tentu tak cepat menyerah dan meneruskan penelitiannya agar Autonomus dapat beroperasi sesuai rancangan.

"Biasanya itu pengulangan dalam pemilihan komponen saja. Jadi ada yang mudah terbakar, itu kan biasa barang elektronik ya. Nah kita cari yang terbaik," papar dia kepada detikFinance, baru-baru ini.

Ia pun mengaku belum pusa dan ingin menciptakan alat pertanian yang lebih sempurna lagi.

Harapannya, akan tercipta lebih banyak mesin pertanian canggih yang dekat dengan teknologi sehingga bisa menarik minat para milenial untuk terjun ke sektor pertanian.


Meski demikian, ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya.

Sebagai perekayasa pun ia mengaku memang mendapat pengharagaan dari pemerintah hingga swasta, berupa royalti. Walaupun begitu, masih ada keinginan yang belum terpenuhi.

Ia mencontohkan, besaran royalti yang diterima antara perekayasa dan peneliti tidak berkeadilan. Padahal, mereka sama-sama mengerjakan untuk menghasilkan produk.

"Untuk perekayasa ini masih kurang karena tunjangannya lebih rendah dari peneliti. Maunya kita disamakan," tutup dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed