Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 03 Jan 2019 17:26 WIB

Apa Kabar Rencana Merpati yang Mau Terbang Lagi?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta - Pemerintah bakal melepas seluruh saham PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) supaya bisa terbang lagi tahun ini. Saat ini, segala dokumen untuk privatisasi sudah siap untuk dibawa ke tahapan selanjutnya.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro mengatakan, pada dasarnya Menteri BUMN Rini Soemarno setuju untuk melepas seluruh saham Merpati. Dia menuturkan, segala dokumen untuk privatisasi juga sudah siap.

"Pada prinsipnya beliau (Menteri BUMN) OK (lepas semua saham), cuma dokumentasinya, dukungan Menteri Keuangan. Kan dokumentasi lama, tapi sudah selesai," terangnya di Kementerian BUMN Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Dia mengatakan, ada sejumlah tahapan untuk privatisasi. Antara lain, keputusan privatisasi mesti diambil lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Setelah itu, laporan RUPS dibawa ke Menteri BUMN.

Dari Menteri BUMN, kemudian diusulkan ke Komite Privatisasi yang diketuai Menteri Koodinator Bidang Perekonomian.

"Dia (Menko) mengundang rapat dalam hal ini menteri teknis, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri BUMN disetujui, maka kita bawa surat persetujuan daftar di Komisi VI, RDP (rapat dengar pendapat) kemudian dirakerkan, begitu disetujui saya eksekusi," jelasnya.

"Dari sisi dokumen, penjelasan homologasi sudah siap semua, tapi tahapannya ya gitu, Ibu (Menteri BUMN) setuju, Menteri Keuangan setuju, sidang bersama Menteri Perhubungan dipimpin Menko keluar surat, kemudian kita ajukan Komisi VI, pembahasan," sambungnya.



Saat ini, investor yang siap menyuntik Merpato ialah PT Intra Asia Corpora. Perusahaan ini menyiapkan modal Rp 6,4 triliun untuk menghidupkan Merpati.

Menurutnya, pemerintah bisa saja menambah investor apabila ada keputusan dari Komite Privatisasi.

"Ya kita lihat prosesnya, kalau masih stay kita jalan yang ada dulu. Kalau pemerintah memutuskan harus mencari lebih banyak lagi for whatever reason tapi itu sepenuhnya diputuskan Komite Privatisasi," paparnya.

Dia menjelaskan, privatisasi mesti cepat berlangsung supaya Merpati bisa hidup tahun ini. Jika tidak, Merpati berpotensi benar-benar mati.

"Tahun ini harus, kalau nggak buat apa, kalau kreditur terus ngamuk lagi, bener mati. Kalau kita nggak, bener-bener likuidasi," tutupnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed