Rugi 6 Tahun, Krakatau Steel Keluhkan Maraknya Baja Impor

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 04 Jan 2019 11:40 WIB
Baja Krakatau Steel/Foto: Dok. Krakatau Steel
Jakarta - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) mengeluhkan maraknya baja impor yang masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu juga dianggap menjadi penyebab perusahaan terus mengalami kerugian dari tahun ke tahun.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, perusahaan sudah enam tahun mengalami kerugian. Pada kuartal III-2018 perusahaannya masih mengalami kerugian sebesar US$ 37 juta.

"Memang sudah enam tahun mengalami kerugian. Tapi kami sedang melakukan perbaikan fundamentalnya," ujarnya dalam acara Paparan Publik Krakatau Steel di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (4/1/2018).


Fundamental yang dimaksud Silmy adalah perbaikan industri baja tanah air. Selama ini industri baja nasional terdampak dari serangan produk baja impor.

Selama ini baja impor yang masuk mengakali nomor Harmonized System (HS) dari carbon steelmen menjadi jenis alloy steel. Sehingga produk tersebut akan mendapatkan lebih rendah dibanding jenis produk baja lainnya. Hal itu lantaran adanya kebijakan Permendag 22/2018.

"Industri baja dalam tiga tahun terakhir ini terpukul. Itu karena Permendag 22 itu bebas cukai," tambahnya.

Dengan begitu, produk baja nasional sulit bersaing dengan produk impor di rumah sendiri. Terbukti dari banyaknya porsi konsumsi produk baja impor dibanding produksi nasional.

Pada 2017 misalnya dari total kebutuhan konsumsi baja nasional sebanyak 13,6 juta ton sebanyak 52% dari impor baja, sementara baja nasional hanya 48%. Sementara untuk 2018 yang kebutuhan konsumsi bajanya mencapai 14,2 juta ton diperkirakan konsumsi untuk baja impor meningkat menjadi 55%.


Sementara dari sisi neraca perdagangan baja menurut data Kemendag masih mengalami defisit. Pada 2017 defisit neraca perdagangan baja mencapai US$ 4,56 miliar dengan catatan ekspor baja US$ 3,34 miliar dan impor baja US$ 7,99 miliar.

Untuk itu, pihaknya memperjuangkan agar Permendag 22/2018 direvisi. Selain mengajukan usulan itu ke Kemendag, Silmy juga telah melaporkannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kita tidak akan bisa berkompetisi dengan sehat. Jadi saya dengan teman di industri baja berupaya agar tercipta playing field yang sehat. Saya sampaikan langsung ke Pak Presiden. Apalagi setelah dorong infrastruktur maka selanjutnya adalah industri yang di dorong. Dan untuk melakukan itu industri baja yang pertama didorong karena menjadi sumber seluruhnya. Usulan ini ditangkap dan langsung direvisi," terangnya.




Tonton juga 'Trump Sahkan Kebijakan Kontroversial soal Bea Impor Baja':

[Gambas:Video 20detik]


(das/ara)