Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Mar 2019 14:06 WIB

Boeing Rombak Pejabat Pasca 737 MAX Jatuh

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Boeing, khususnya divisi pesawat komersial tengah menghadapi masalah yang amat besar pasca jatuhnya pesawat 737 MAX. Perusahaan menunjuk nama baru untuk Wakil Presiden Teknik (Vice President Engineering) sambil melakukan penyelidikan penyebab kecelakaan pesawat.

Manajemen melakukan perombakan pasca Eropa dan Kanada menyoroti keselamatan Boeing 737 MAX. Pasalnya banyak negara yang sudah melarang pesawat tersebut terbang pasca kecelakaan.

John Hamilton yang sebelumnya menjabat sebagai VP dan Chief Engineer di Divisi Pesawat Komersial Boeing digantikan oleh peran Chief Engineer.


CEO Boeing Kevin McAllister mengatakan hal tersebut melalui surat elektronik kepada para karyawannya.

"Ini akan memungkinkan dia untuk fokus pada investigasi kecelakaan," kata McAllister.

Ia menambahkan bahwa perubahan manajemen perusahaan diperlukan untuk kebutuhan investigasi kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX.

Lynne Hopper yang sebelumnya menakhodai Test and Evaluation di Boeing's Engineering, Test and Technology group ditunjuk sebagai VP Engineering.

Juru Bicara Boeing enggan berkomentar mengenai hal ini. Namun dapat dipastikan surat elektronik tersebut benar adanya.

Perombakan tersebut menunjukkan bagaimana produsen pesawat terbang terbesar dunia membebaskan teknisinya fokus dalam investigasi kecelakaan pesawat dan juga mempertahankan produksi jenis 737.

Hamilton menjabat sebagai VP Engineering Boeing dari April 2016 hingga Maret 2019. Sebelumnya, pada Juli 2013 hingga Maret 2016 ia menjabat sebagai VP yang membawahi keselamatan, keamanan dan kepatuhan serta mengawasi pesawat terbang komersial.


Para ahli keselamatan penerbangan mempertanyakan seberapa teliti regulator dalam memeriksa pesawat Boeing jenis MAX tersebut dan seberapa tahu pilot akan fitur pesawat tersebut.

Saat ini, sudah banyak negara yang melarang terbang pesawat Boeing MAX dan lebih dari 5.000 pengiriman pesawat ditunda.

Sementara itu, saham Boeing naik 0,3% pada Selasa kemarin menjadi US$ 373,43. Angka ini sudah turun lebih dari 11% sejak kecelakaan di Ethiopia. (ara/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed