Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 07 Apr 2019 18:32 WIB

Perjanjian Dagang RI-Australia Bisa Genjot Industri Manufaktur

Zulfi Suhendra - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri manufaktur di 2019 bisa mencapai 5,4%. Penggerak pertumbuhan industri tersebut salah satunya adalah perjanjian kerja sama bilateral dengan negara lain.

Hal tersebut diyakini bisa mendorong ekspor dan menggairahkan industri dalam negeri. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah memacu perkembangan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global, seiring pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Selain itu mengoptimalkan produktivitas, terutama industri yang berorientasi ekspor serta menarik investasi dari industri substitusi impor. Saat ini, kebijakan makro tetap dijaga dengan komitmen pemerintah melaksanakan paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan," kata Airlangga dalam keterangannya, Minggu (7/4/2019).

Untuk memacu industri manufaktur nasional, pemerintah juga telah menandatangani Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Dengan ditekennya perjanjian itu, ekspor Indonesia ke Australia akan meningkat, karena Australia telah memberikan komitmen untuk mengeliminasi bea masuk impor untuk seluruh pos tarifnya menjadi 0%.



Beberapa produk Indonesia yang berpotensi untuk ditingkatkan eksponya antara lain, produk otomotif, khususnya mobil listrik dana hybrid, kayu dan turunannya, termasuk furnitur, tekstil dan produk tekstil, ban, alat komunikasi, obat-obatan, permesinan, serta peralatan elektronik.

"Kami sangat menyambut baik kerja sama ekonomi ini, karena menjadi momentum untuk sama-sama memacu pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara," tuturnya.

Airlangga menyebut, selain itu, pendorong industri manufaktur dalam, negeri bisa meningkat karena pemerintah telah merilis aturan terkait dengan tax holiday yang mencakup lebih banyak sektor, yaitu melalui PMK 150-2018 tentang Fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan Badan.

Selain itu, kepastian untuk mendapatkan insentif tersebut juga lebih jelas dengan adanya online single submission (OSS) "Artinya investor tidak perlu menunggu, bahwa kondisi politik dan ekonomi di Indonesia dinilai stabil," tambahnya.

Sementara itu, pelaku usaha manufaktur kian pede terhadap pertumbuhan industri tahun ini. Terlebih dari dukungan pemerintah untuk meningkatkan industri manufaktur.

"Kami menyambut baik upaya pemerintah untuk menggenjot ekspor produk dalam negeri," ujar Direktur Keuangan PT Grand Kartech Tb Johanes Budi K.

Perseroan ini mengaku tengah membidik pasar negeri Kanguru. Dengan adanya perjanjian IA-CEPA, perseroan pede produknya bisa bersaing di pasar internasional, terlebih dengan adanya pengalaman dan kemampuan engineering dan manufacturing yang sudah berstandar internasional.

(zlf/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com