Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 24 Jul 2019 11:37 WIB

Krakatau Steel Kalang Kabut Gara-gara Baja Non SNI

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah Foto: Selfie Miftahul Jannah
Jakarta - Lesunya industri besi dan baja nasional diperkirakan lantaran maraknya serbuan produk dari luar negeri. Hal itu pun ikut dirasakan oleh BUMN produsen baja PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Direktur Utama KRAS Silmy Karim mengatakan peningkatan importasi membuat industri baja nasional semakin tidak sehat. Hak itu terlihat dari penurunan utilitas dari produksi baja.

"Sekarang ini yang harus ditegakkan. Sekarang semua sudah teriak karena mereka mulai masuk dan susah jual langsung," ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Pemberantasan Produk Baja Impor Non-SNI di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Menurut pria yang juga menjadi Ketua The Indonesian Iron & Steel Industry Association/IISIA, industri baja dan besi, baik hulu maupun hilir telah dirambah oleh produk impor. Bahayanya produk impor ini tak mengikuti ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kualitas dan harganya lebih rendah.


"Mereka ini (importir) bahkan sewa ruko, bawahnya display atasnya tempat tinggal. Kalau dia tidak SNI ya mati semua," tambahnya.

Dari data yang dia pegang, impor besi dan baja pada kuartal I-2019 naik 14,65% dari posisi kuartal I-2018 sebesar 2,4 juta ton menjadi 2,7 juta ton.

Peningkatan produk impor itu diyakini juga membuat permintaan produk hulu seperti Cold Rolled Coil (CRC) dan Hot Rolled Coil (HRC) yang merupakan bahan baku dari produk baja lapis.

"Kita bukan cari proteksi yang berlebihan. Kita hanya ingin level playing field yang sama," tutupnya.





Krakatau Steel Kalang Kabut Gara-gara Baja Non SNI


Simak Video "Penjelasan Arkeolog soal Perahu Baja di Bengawan Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com