Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 02 Agu 2019 18:10 WIB

Imbas Jepang-Korea Memanas Ancam Industri Elektronik

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: agung pambudhy Foto: agung pambudhy
Jakarta - Perseturuan Jepang dan Korea Selatan memanas. Terlebih lagi hari ini Jepang sudah mengeluarkan Korea sebagai daftar mitra dagangnya, perseteruan ini diprediksi dapat mengancam rantai pasokan global untuk perangkat elektronik, termasuk smartphone.

Meski rencana ini sudah diutarakan Jepang, pelaksanaannya baru akan dimulai 28 Agustus nanti. Konsekuensi dari langkah yang diambil Jepang adalah, ekspor impor yang dilakukan kedua negara akan menjadi ketat ketentuannya.

Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menegaskan bahwa, dengan mencabut status Korea Selatan sebagai mitra dagang terdepan, berarti membuat negara itu akan menerima perlakuan yang sama dalam perdagangan dengan negara di wilayah Asia lainnya, termasuk Taiwan.
Yoshihide menegaskan Jepang dan Korea masih bisa saling berdagang, tidak ada larangan perdagangan. "Ini bukan larangan perdagangan," tegasnya, dikutip dari CNN, Jumat (2/8/2019).

Presiden Korea Selatan Moon Jae-In menyebut keputusan yang diambil Jepang sangat 'sembrono'. Pihaknya pun mengancam akan membalas apa yang dilakukan Jepang.

"Jika Jepang berupaya untuk merusak ekonomi kita, Pemerintah Korea juga memiliki tindakan balasan untuk meresponsnya," kata Moon Jae-In.

Partai Demokrat yang berkuasa di Korea juga angkat bicara, mereka menyebut keputusan Jepang itu sebagai pernyataan perang ekonomi habis-habisan terhadap negaranya.

Korea Selatan sendiri rupanya merupakan mitra dagang terbesar ketiga Jepang, setidaknya negara ginseng ini membeli barang-barang dari Jepang sekitar US$ 54 miliar. Mulai dari mesin industri, bahan kimia, dan mobil.

Ketegangan antara kedua negara dimulai bulan lalu ketika Tokyo mempererat kontrol pada ekspor terhadap tiga bahan kimia ke Korea Selatan. Bahan-bahan seperti poliamida berfluorinasi, photoresists dan hidrogen fluoride yang digunakan untuk membuat chip komputer, dipersulit masuk ke Korea.

Kontrol perdagangan yang makin erat itu membuat ekspor dari Jepang jadi terbatas dan sulit. Perusahaan Jepang harus mengajukan lisensi untuk masing-masing bahan kimia yang mereka jual ke Korea Selatan. Bahkan, prosesnya dibuat lama hingga bisa memakan waktu 90 hari.

Pembatasan-pembatasan itu pun sudah dirasakan pada industri semikonduktor global. Samsung Korea Selatan (SSNLF) dan SK Hynix yang membuat hampir dari dua pertiga chip memori dunia, terhambat produksinya.

Padahal, chip tersebut digunakan dalam segala hal mulai, dari smartphone hingga mobil yang pintar. Bahkan, pembuat smartphone sekelas Apple (AAPL) dan Huawei mengandalkan chip memori dari perusahaan yang berinduk di Korea Selatan itu.
Kepala hubungan investor Samsung Robert Yi mengomentari langkah terbaru yang dilakukan Jepang. Katanya, Samsung dipastikan menghadapi kesulitan karena kontrol perdagangan dan ketidakpastian bisnis yang mengiringinya.

"Perusahaan kami menghadapi kesulitan karena kontrol ekspor Tokyo. Kami juga merasa akan ada ketidakpastian yang dibawa proses baru ini," kata Robert.

Sedangkan, juru bicara SK Hynix mengatakan bahwa perusahaan akan mengalami kesulitan pada pengadaan bahan baku.

"Kesulitan tertentu akan muncul dalam mengamankan (pengadaan) bahan baku. Apalagi, sekarang Korea Selatan tidak masuk daftar putih (daftar mitra dagang Jepang)," kata SK Hynix.


Imbas Jepang-Korea Memanas Ancam Industri Elektronik


Simak Video "Jokowi Minta Pengusaha Memanfaatkan Perang Dagang AS-China"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed