Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Nov 2019 14:26 WIB

Prabowo Sebut Industri Pertahanan Banyak Kurangnya, Ini Kata BUMN

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengunjungi pabrik PT Pindad (Persero) beberapa waktu lalu. Dari kunjungan itu, Prabowo berpandangan jika industri pertahanan nasional masih banyak kekurangannya.

Apa kata PT Dahana (Persero) sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di industri pertahanan?

Presiden Direktur Dahana Budi Antono memaparkan, saat ini sebenarnya sudah ada Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Kemudian, dia menyebut jika alat pertahanan sudah disertifikasi maka sudah bisa dibeli TNI.

Namun, dia bilang, ada sejumlah barang yang justru didatangkan dari luar negeri alias impor.


"Sebetulnya kita punya KKIP Komite Kebijakan Industri Pertahanan, barang siapa yang sudah tersertifikat, akreditasi itu boleh TNI beli ke industri lokal. Contohnya, Dahana, Pindad, DI (Dirgantara) PAL. Kadang-kadang belinya keluar," jelasnya di Kementerian BUMN Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Pihaknya tak menyebut barang-barang yang dimaksud. Namun, dia tak menepis untuk alat pertahanan dengan teknologi canggih Dahana belum bisa memproduksi. Dahana sendiri, kata dia, sudah bisa memproduksi bom dan roket.

"Teknologi canggih kita akui kita belum bisa. Kalau Dahana bisa bikin bom sudah ada sertifikatnya, terus nanti ada Roket S8 Kom tahun depan diuji dinamis pakai Sukoi," ujarnya.

Pemakaian alat pertahanan yang dipasok oleh BUMN nasional ke Kementerian Pertahanan (Kemenhan) ataupun TNI pun masih minim. Menurut Budi, saat ini baru sekitar 13%. Terkait minimnya pemakaian alat pertahanan ini, ia meminta agar ditanyakan ke Kemenhan ataupun TNI.


"Kita tergabung holding National Defence and Hightech Industries (NDHI). Kita itung-itung yang dibeli TNI atau Kemhan itu 13%. Kita maunya 35% dengan produksi dalam negeri," ujarnya.

"(Kenapa?) Tanya deh ke sana. (Menurut Dahana?) Apa namanya saya nggak tahu, mungkin NDHI belum bisa buat macam-macam, mereka (untuk) kemampuan juga, jadi mereka belinya dari luar. Tapi kalau Dahana bisa bikin bom, roket bisa bikin S8 Kom harusnya dibeli," jelasnya.

Prabowo sebelumnya mengunjungi Pindad untuk mempersiapkan arah industri pertahanan ke depan. Menurutnya, industri pertahanan masih banyak masalah.

"Ya kekurangannya banyak sekali ya. Kehidupan kan selalu penuh kekurangan. Sekarang masalahnya adalah bagaimana kita cari solusi terhadap kekurangan-kekurangan tersebut," kata Prabowo di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/11/2019). Prabowo menjawab pertanyaan soal kekurangan industri pertahanan usai mengunjungi Pindad.

Simak Video "Wamenhan Sakti Wahyu Trenggono Dapat Tugas Khusus dari Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com