Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 25 Nov 2019 16:35 WIB

Ekspor Baja Kena Bea Masuk 25%, Importir AS Minta RI 'Bujuk' Trump

Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi baja. Foto: Agung Pambudhy Ilustrasi baja. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kebijakan pengenaan bea masuk 25% terhadap ekspor baja ke Amerika Serikat (AS) yang diteken Presiden Donald Trump tengah menyulitkan perusahaan asal negara Paman Sam itu sendiri.

Salah satunya adalah perusahaan ATI (Allegheny Technologies Incorporated) Metals. ATI Metals merupakaan perusahaan manufaktur yang mengimpor 300.000 ton slab (lembaran) baja dari Indonesia setiap tahunnya dengan nilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 8,45 triliun (kurs Rp 14.000). Impor slab baja tersebut berasal dari pabrik asal Morowali dari grup perusahaan Tsingshan.

Dalam kunjungan delegasi Indonesia ke AS beberapa waktu lalu, ATI Metals meminta bantuan Indonesia untuk memberikan dukungan dalam pembebasan bea masuk impor slab baja kepada United States Department of Commerce (USDC).

"Dalam pertemuan dengan USDC akses pasar untuk baja slab indonesia, untuk pabrik Morowali, kita ada beberapa jumlah tetentu yang mendapatkan pengecualian. Mereka berharap didukung oleh Indonesia," tutur Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag, Kasan Muhri di kantornya, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Adapun pengajuan ATI Metals terhadap pemerintahan AS untuk pembebasan bea masuk diajukan dalam dua opsi volume impor. Pertama, impo baja slab sebesar 150.000 ton per tahun dibebaskan bea masuk 25%. Kedua, impor slab baja sebesar 300.000 ton per tahun dibebaskan bea masuk 25%.


Dalam pengajuan tersebut, ATI Metals hanya membedakan jumlah volume impor. Namun, prioritasnya tetap pada volume impor sebesar 300.000 ton per tahun.

"Kalau lebih dari dua opsi itu, dikenakan tarif 25%. Secara prioritas mereka menyampaikan yang 300.000 ton itu," papar Kasan.

Skema pengajuan opsi tersebut dilakukan ATI Metals agar memperoleh pembebasan bea masuk impor slab baja. Pasalnya, ATI Metals sendiri pernah mengajukan opsi pembebasan tarif terhadap volume impor lebih dari 300.000 ton slab baja, namun ditolak.

"Kalau mengajukannya besar belum tentu disetujui. Yang sebelumnya mereka mengajukan lebih dari 300.000 tapi ditolak. Karena salah satu pertimbangannya dalam proses itu harus ada kriteria bahwa barang ini memang murni diproduksi di Indonesia. Yang kedua di AS, perusahaannya tidak ada yang produksi itu," sebutnya.

Menurut Kasan, ATI Metals sendiri meminta bantuan dari pemerintah Indonesia untuk mempermudah pengajuan insentif tersebut. Faktanya, ATI Metals memang membutuhkan baja slab dari Morowali itu untuk kebutuhan industrinya.

"Kalau beli dari Indonesia (slab baja), tidak ada hambatan, bisa kompetitif. Sehingga mereka mengajukan (permohonan pembebasan tarif)," tutupnya.



Simak Video "Perahu Baja di Bengawan Solo Diduga Angkut Serdadu Zaman PD I"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com