Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 21 Des 2019 21:40 WIB

Berita Terpopuler Sepekan

Ternyata, Indonesia Masih Ketergantungan Baja Impor!

Soraya Novika - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa hingga kini Indonesia masih tak dapat lepas dari baja impor.

Salah satu alasan terkuat Indonesia masih ketergantungan dengan baja impor karena kemampuan produksi baja untuk mesin masih tergolong lemah (engineering).

Menurut Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Harjanto menjelaskan saat ini industri hulu masih fokus memproduksi baja untuk konstruksi ketimbang untuk mesin. Mau tidak mau baja untuk mesin harus impor.

"Nah ini kondisi pabrik kita di dalam negeri memang masih fokus di baja-baja konstruksi," ujar Harjanto dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (18/12/2019).


Dirinya menyadari bahwa impor baja memang menjadi polemik. Namun, mau tidak mau hal itu harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri pengguna baja, termasuk industri otomotif.

"Kalau di mobil, untuk transmisi saja itu ada bajanya juga. Nah, (memenuhi kebutuhan baja untuk transmisi) itu kita nggak bisa. Baja untuk suspensi kita nggak bisa juga. Jadi apa segala macam itu kita nggak bisa buat. Apa boleh buat kita terpaksa impor," jelasnya.

"Cetakan itu bahan bakunya semua impor. Kenapa kita kalah industri mold and dies kita dengan yang di China karena China bikin sendiri bahan bakunya. Pabrik kita di dalam negeri selalu dapat bahan baku dari impor," sambungnya.

Selain itu, dia mengungkapkan penyebab industri hilir alias industri pengguna baja memilih baja impor ketimbang lokal. Hal Itu terjadi karena harga dan kualitas baja impor dianggap lebih unggul.

"Industri hilir sama hulu selalu berkelahi. Hilir bilang saya perlu baja. Baja yang antara impor dengan lokal. Saya perlu baja yang sesuai spek, saya perlu baja yang harganya kompetitif," jelasnya.

Bagi industri hilir, harga baja sangat penting karena mereka harus bersaing dengan produk turunan baja dari China. Produk-produk turunan baja dari negara tersebut kompetitif sehingga untuk bersaing harus bisa menekan harga.

"Sekarang kita ini sudah buka pasar dengan China. Jadi ada Asean-China FTA. Itu sebagian besar tarif kita sudah nol, bagaimana industri hilir bisa tumbuh kalau bahan bakunya mahal. Bukan teman-teman industri hilir nggak mau pakai barang industri hulu atau industri menengah," jelasnya.

"Cuma masalahnya bagaimana menurunkan harga di industri midstream dan upstream. Itu problem kita," sebutnya.

Untuk membuat produk yang lebih kompetitif, selain harga juga harus ada jaminan kualitas. Industri hilir memilih baja impor juga untuk menjaga mutu.

Namun, derasnya aliran impor baja di dalam negeri dikhawatirkan bakal mengancam eksistensi industri baja nasional.


Harjanto menilai jika saat ini impor dibatasi, yang ada malah akan mengancam industri hilir. Pasalnya industri tersebut masih cukup bergantung baja impor karena harga dan kualitas lebih baik.

"Impor itu tidak selalu jelek. Impor kan konotasinya selalu negatif. Sekarang kalau kita tutup impor coba, apa yang terjadi? Saya balik tanya, produksi mati semua," tuturnya.

Bahayanya ketika impor baja disetop, industri hilir tidak bisa berproduksi maka yang ada Indonesia akan dibanjiri produk hilir baja.

"Baja sendiri kan dipakai karena ada kebutuhan untuk industri dalam melakukan proses industrialisasi ya kan. Baja itu kan bahan baku, belum barang jadi. Tapi kalau kita tutup di situ, sekat di situ, berarti barang jadinya kan masuk. Yang masuk nanti bukan bajanya, bajanya sih turun. Barang jadinya yang membludak di dalam negeri," jelasnya.

Sejauh ini pihaknya pun mengaku tidak mendapatkan laporan adanya industri baja yang tutup karena masuknya baja impor. Namun impor ini memang membuat pemanfaatan tingkat produksi atau utilisasi produksi baja industri dalam negeri menjadi rendah.

"Saya belum ada laporan yang tutup, belum ada. Paling memang utilisasi rendah, iya. Utilisasi ada yang bilang di sekitar 50%. Nah itu yang jadi catatan," tutupnya.

Simak Video "Jokowi: Impor Baja Sumber Utama Defisit Neraca Perdagangan RI"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com