Eropa Larang Sawit RI, Jokowi: Kita Pakai Sendiri Saja!

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 09 Jan 2020 12:14 WIB
Foto: Jokowi (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih sikap tenang ketika Eropa mau melarang produk minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia. Pasalnya, Indonesia sebagai produsen CPO besar di dunia bisa memanfaatkannya sendiri.

Pemanfaatan CPO, kata Jokowi bisa melalui program mandatori biodiesel yang saat ini sudah 30% (B30). Jokowi bilang semakin besar pemanfaatan biodiesel, maka semakin besar juga peluang CPO Indonesia dikonsumsi oleh dalam negeri.

"Kalau kita bisa memproduksi yang namanya B50 posisi tawar kita terhadap semua negara akan bisa naik. Uni Eropa mau banned (larang) sawit kita, ya kita tenang-tenang saja. Kita pakai sendiri saja, ngapain sih harus ekspor ke sana," kata Jokowi saat membuka rapat kerja kepala perwakilan Republik Indonesia Kementerian Luar Negeri di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Pemerintah sekarang sudah menerapkan program B30 per akhir Desember 2019. Implementasi program mandatori ini akan meningkat menjadi B40 di 2020 dan menjadi B50 di 2021. Jokowi bilang, pemanfaatan CPO sebagai bahan bakar nabati sebagai upaya tanah air tidak bergantung dengan negara lain.



Bahkan jika Indonesia berhasil meningkatkan program mandatori sampai 50%, Jokowi percaya bahwa Indonesia bisa mengendalikan pasar minyak kelapa sawit.

"Kalau itu nanti bisa sampai kita ke B50 dan kita bisa produksi dengan baik, harga sawit sekarang sudah naik, lumayan lompatannya, meloncatnya sangat besar sekali, tapi kalau kita sudah masuk ke B50 betul-betul kita bisa, kita yang mengendalikan, bukan pasar yang mengendalikan," jelasnya.

Mantan Wali Kota Solo ini mengungkapkan produksi CPO nasional sudah mencapai 46 juta ton per tahun. Angka tersebut menjadikan tanah air sebagai produsen terbesar di dunia, meskipun sejak tiga tahun lalu diberlakukan moratorium pembukaan lahan baru.

Jokowi memilih untuk meningkatkan produksi sawit per hektarnya menjadi 7-8 ton per hektar dari yang saat ini baru mencapai 4 ton per hektar. Dengan produksi 7-8 ton per hektar maka dalam satu tahun produksinya menjadi 100 juta ton.

"Bargaining kita akan semakin kuat kalau kita bisa menggunakan itu juga di dalam negeri dan jumlah yang besar. Sekaligus ekspor minyak kita menjadi anjlok turun," ungkap dia.



Simak Video "Ibu yang Curi 3 Tandan Sawit di Rohul Minta Maaf"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)