Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 20 Jan 2020 17:12 WIB

Target Inalum Tak Impor Bahan Baku Aluminium Lagi di 2022

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Eduardo Simorangkir
Kuala Tanjung - Indonesia memiliki kekayaan alam melimpah yang tak terkira harganya. Tapi sayang, kerap kali kekayaan alam yang dimiliki tak dapat dioptimalisasi di dalam negeri sehingga malah mengurangi nilai tambah di tanah air.

Misalnya saja untuk produksi aluminium, Indonesia masih harus mengimpor bahan bakunya terlebih dahulu untuk bisa memproduksi produk turunannya. Padahal, di dalam negeri ada bauksit yang bisa dipakai untuk memproduksi alumina yang menjadi salah satu bahan baku produksi aluminium.

Hal inilah yang sekarang tengah dikebut penyelesaiannya oleh PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum. Inalum melalui anak usaha patungan bersama PT Antam Tbk, yakni PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI) segera memulai pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery yang berlokasi di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.


Direktur Utama Inalum, Orias Petrus Moedak mengatakan pihaknya menargetkan selambat-lambatnya pembangunan pabrik pemurnian alumina tersebut dimulai pada pertengahan tahun ini. Alumina sendiri diketahui sebagai salah satu bahan baku produk aluminium Inalum.

"Pertengahan tahun ini atau Juni direncanakan groundbreaking smelter," katanya saat ditemui di Kantor Utama Inalum, Kuala Tanjung, Senin (20/1/2020).

Orias bilang, adanya pabrik pemurnian atau smelter refinery alumina tersebut akan menekan ongkos produksi Inalum hingga 15%. Dengan begitu, laba yang dihasilkan pun diharapkan bisa tumbuh hingga 10%.

"Saya harap bisa berkontribusi minimal naik 10% bottom line," katanya.


Smelter dengan investasi mencapai US$ 850 juta tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada akhir 2021 atau awal 2022. Smelter tersebut akan memiliki kapasitas awal sebesar 1 juta ton per tahun sehingga memungkinkan Inalum untuk tidak lagi mengimpor bahan baku alumina.

"Kalau sekarang kebutuhannya (alumina) kan 500 ribu ton (per tahun), kalau itu kapasitas 1 juta ton bisa nggak impor lagi kita. Itu di 2022," kata Direktur Pelaksana Inalum, Oggy Achmad Kosasih dalam kesempatan yang sama.

Simak Video "Isu Denny JA Tagih Jabatan ke Luhut, Ini Jawaban Kementerian BUMN"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/das)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com