Garam Lokal Bakal Diserap 1,5 Juta Ton

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 07 Mar 2020 11:30 WIB
Musim kemarau yang cukup panjang ternyata tak berdampak signifikan terhadap petani garam di kawasan Tambak Oso Wilangon, Surabaya. Meski panen melimpah, namun pendapatan petani garam justru turun. Misnal (55), salah satu petani garam di Surabaya mengaku harga garam di musim panen tahun ini merosot. Tahun lalu, harga garam Rp 1.500 per kilogram. Di tahun ini harga garam turun menjadi RP 1.200 per kilogram.
Foto: Arif Syaefudin/detikcom


Edhy menambahkan, kualitas standardisasi garam di sektor perindustrian juga akan menjadi prioritas. Dengan geo membran ini, standardisasi garam akan ditingkatkan mulai dari Natrium dan Natrium Clorida. Setelah itu baru meningkatkan kuantitas hasil garam.

Pemerintah rutin melakukan impor garam, tahun ini sudah dialokasikan kuota impor garam industri sebesar 2,92 juta ton. Selama ini garam impor dipakai industri sebagai bahan baku yang disyaratkan berspesifikasi tinggi. Industri makanan dan minuman misalnya butuh garam NaCl dengan kadar di atas 97%. Selain itu, garam impor digunakan juga oleh industri pulp dan kertas, farmasi, dan lain-lain.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengatakan, sektor industri siap menyerap garam petani lokal. Penggunaan garam lokal untuk industri sudah dilaksanakan sejak tahun lalu.

"Jadi kami sangat menyambut baik karena itu sebenarnya bukan hal baru, dari tahun 2019 (1,1 juta ton), Kementerian Perindustrian sudah memfasilitasi pertemuan antara industri pengguna garam dan petani garam, di kantor kami bahkan, sudah ada MoU yang mewajibkan industri membeli dari petani garam," ujarnya.


(kil/hns)