Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 11 Mar 2020 17:19 WIB

Impor Bahan Baku Dipermudah, Pengusaha Farmasi Jamin Stok Aman

Vadhia Lidyana - detikFinance
Pameran bahan baku farmasi ASEAN, lewat event Convention on Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPI SEA) 2014, digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/05). Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Fenomena panic buying ketika virus corona positif menjangkit RI sudah terasa sejak awal Maret 2020. Harga masker, disinfektan, vitamin, dan obat-obatan pun naik karena permintaan melonjak.

Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi dari GP Farmasi Vincent Harijanto mengatakan, pemerintah sudah mempermudah proses importasi bahan baku farmasi. Sehingga, ia memastikan produksi dan pasokan aman.

"Badan POM (BPOM) sudah koordinasi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Karena ada masalah pengiriman barang, kita dari awal terhambat dokumen karena harus dilengkapi. Tapi dari BPOM dan DJBC sudah berjanji memberikan kemudahan untuk solusi ketika masalah timbul. Jadi warga tidak perlu panik," kata Vincent dalam Kongkow Bisnis Pas FM di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Ia memaparkan, bahan baku industri farmasi di Indonesia memang 85% masih impor dari China dan India. Sehingga, percepatan impor perlu dilakukan demi mengamankan stok.

"Dari koordinasi yang sudah dilakukan tidak hanya farmasi, yang berperan ada pedagang farmasi bahan baku, ini yang melakukan impor dari China dan India," imbuh dia.

Dari angka tersebut, 65% importasi dilakukan dari China, dan 35% dari India.

"Jadi ketergantungan kita untuk bahan baku yang kita impor dari china cukup besar," sebut Vincent.

Menurutnya, sejak China merayakan Imlek dengan libur panjang, pasokan produk farmasi Indonesia sudah menipis. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu tersebut stop produksi, ditambah lagi ketika virus corona merebak. Namun, ia memastikan kini produksi di China sudah berjalan kembali.

"Produksi China berhenti satu-dua minggu sudah terjadi sebelum-sebelumnya. Kebetulan datanglah si corona ini, berhentinya jadi menyambung. Baik staf yang masuk maupun produksi dari pabrik. Setelah kami cek kemarin mereka sudah start untuk masuk kantor dan sudah start produksi," urainya.

Saat ini, menurutnya stok obat-obatan di Indonesia masih tersedia hingga bulan April. Kemudian, produk yang masih dalam proses produksi akan tersedia untuk memenuhi pasokan hingga bulan Juli 2020.

"Stok obat masih bisa sampai maret-april, itu pun dikatakan untuk fast moving item. Untuk slow moving item bisa sampai Juni-Juli," terangnya.



Simak Video "WNA Pasien Corona yang Meninggal Sebelumnya Dirawat di RS Sanglah"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com