Kalbe Jajaki Mitra dari China-Eropa untuk Produksi Vaksin Corona

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 18 Mei 2020 16:13 WIB
Ilustrasi Corona
Foto: dok iStock
Jakarta -

PT Kalbe Farma Tbk (perseroan) mengaku tengah melakukan penelitian dan pengembangan untuk memproduksi obat, alat kesehatan hingga vaksin COVID-19 buatan dalam negeri. Sejauh ini, emiten farmasi berkode saham KLBF tersebut masih melakukan pengelompokan produk berdasarkan jenis virusnya. Banyaknya jumlah virus yang ada, maka perusahaan akan melakukan pengelompokan dari produk yang sudah ada ataupun calon produk.

"Kita sudah dapatkan beberapa calon (produk), mulai dari vaksin kita coba identifikasi, obat biologinya kita cari kolaborasi, herbal indonesia kita coba uji klinis, kita juga masuk ke alat kesehatan misalnya sanitizer, masker yang consumable kita coba petakan," ujar Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius dalam telekonferensi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Senin (18/5/2020).

Demi mempercepat proses riset tersebut, perseroan melakukan penjajakan dengan berbagai mitra dalam negeri maupun asing. Kerja sama dengan mitra asing ini dianggap penting sebagai pengembangan riset melalui kolaborasi dan transfer teknologi.

"Untuk mempercepat ini, kita membuka diri untuk belajar dan berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti akademisi, pemerintah, industri, pemain lain dan berhubungan dengan partner-patner kami di Korea Selatan," katanya

Vidjongtius menyampaikan mitra dari Korea Selatan tersebut merupakan mitra eksisting. Mitra Korea Selatan yang dimaksud adalah perusahaan farmasi, Genexine. Kerja sama Kalbe Farma bersama Genexine ini telah dibangun sejak 2016 lalu. Perusahaan tersebut memiliki banyak teknologi baru termasuk pengembangan bioteknologi dan vaksin.

Selain Korea Selatan, Kalbe Farma juga membuka diri dengan beberapa calon mitra asing lainnya mulai dari China hingga Eropa.

"Mereka (Genexine) menguasai beberapa teknologi modern yang bisa kami bawa ke Indonesia untuk kita perkuat. Ada juga beberapa calon partner dari China yang kuasai teknologi modern, termasuk partner yang ada di Eropa kami juga sudah lakukan. Kita sekarang sedang menyesuaikan diri. Kami optimis sekali langkah ke depan akan sangat banyak membantu untuk kemandirian kesehatan di Indonesia," tambahnya.

Ia optimis produksi obat hingga vaksin Corona ini dapat segera dimulai paling lambat dalam kurun waktu 2 bulan ke depan.

"Semoga dalam waktu dekat 1 sampai 2 bulan akan ada proposal konkret seperti apa, caranya gimana, kami juga komunikasi dengan BPOM agar berjalan baik," sambungnya.



Simak Video "Ampuhkah Kalung 'Antivirus' Eucalyptus untuk Tangkal COVID-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)