Dorong Pembelian Mobil Listrik, Jerman Guyur Stimulus Rp 35 T

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 05 Jun 2020 09:50 WIB
Apakah Kepergian Angela Merkel Akan Berpengaruh Pada Uni Eropa?
Angela Merkel/Foto: DW (News)

Volkswagen (VLKAF) adalah produsen mobil terbesar di dunia dan memainkan peran besar dalam perekonomian Jerman. Perusahaan ini mempekerjakan hampir 300.000 orang di Jerman dan mengoperasikan 27 pabrik di negara itu, termasuk yang terbesar di dunia di Wolfsburg. BMW (BMWYY) dan Daimler (DDAIF) yang memiliki Mercedes-Benz, juga merek mobil dan pemasok yang ada di negara itu.

Industri otomotif global telah mengalami penurunan penjualan selama dua tahun sebelum pandemi virus Corona melanda, hingga membuat pabrik dan dealer di seluruh dunia tutup dan membuat penjualan anjlok.

Meski Volkwagen sudah membuka kembali pabriknya termasuk yang di Wolfsburg, prospek industri ini masih tetap suram. Menurut survei terbaru dari Ifo Institute Jerman, perusahaan mobil di negara itu menilai bisnis mereka saat ini lebih buruk daripada krisis keuangan global pada 2009. Permintaan lebih rendah setelah sejak 1991.

"Industri ini sangat anjlok. Meskipun berhasil naik kembali beberapa langkah, masih belum ada tanda-tanda kenaikan," kata Kepala Survei Ifo, Klaus Wohlrabe.

Meski begitu, mobil listrik bisa menggerakkan rebound. Berdasarkan Perusahaan Riset Canalys, kendaraan listrik untuk pasar Eropa dan hibrida plug-in tumbuh sebesar 72% pada kuartal I-2020.

Kepala Analis untuk Sektor Otomotif di Canalys, Chris Jones mengatakan kendaraan listrik bisa lebih baik jika bukan karena gangguan yang disebabkan oleh pandemi. Ke depan, subsidi baru Jerman dan pengenalan versi listrik dari model yang sudah populer akan membantu tren ini bergairah.

Paket stimulus baru Jerman lebih besar dari yang diperkirakan para analis. Selain insentif mobil listrik, itu termasuk uang untuk investasi berkelanjutan, keringanan pajak dan bantuan untuk keluarga.

"Menyusul surplus fiskal selama lima tahun dan penurunan rasio utang publik Jerman. Stimulus menunjukkan bahwa Jerman siap dan mampu membelanjakannya ketika hal itu penting," kata Holger Schmieding dari Berenberg Bank.


(ara/ara)