Kinerja Industri Loyo, Pemerintah Mau Kurangi Impor hingga 35%

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 19 Jun 2020 21:30 WIB
Gedung Kemenperin
Kemenperin/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan penurunan impor bahan baku atau penolong dan barang modal bagi industri hingga 35%. Substitusi impor bahan baku industri tersebut ditargetkan tercapai di tahun 2022.

Staf Khusus Kemenperin Gatot Sudariyono mengatakan, target itu dilatarbelakangi oleh kinerja industri yang turun drastis akibat pandemi virus Corona (COVID-19).

"Jadi sebelum COVID-19 industri kita bekerja di rata-rata kapasitas 70%. Saat COVID-19, hari ini rata-rata hanya 40%," kata Gatot dalam diskusi online bersama Apindo, Jumat (19/6/2020).

Substitusi ini dilakukan untuk melindungi pasar domestik dari banjirnya produk-produk impor..

"Kemenperin mencoba untuk melihatnya, pertama yang harus kita selamatkan adalah pasar domestik. Jadi pasar domestik yang sudah menurun ini tidak boleh diserbu atau dibanjiri impor. Ini yang dalam jangka pendek kita akan melakukan dengan berbagai kebijakan," ungkap Gatot.

Dengan melindungi pasar domestik, menurut Gatot dapat meningkatkan kinerja industri nasional. Pasalnya, pasar domestik akan menyerap hasil produksi industri nasional lebih besar.

"Pasar domestik itu cukup besar menyerap industri kita yaitu sampai 70%," imbuh dia.

Namun, substitusi impor hingga 35% itu dapat berhasil dengan indikator sebagai berikut:
1. Obat dan vaksin COVID-19 sudah diproduksi secara massal sehingga operasional industri tidak lagi mengikuti protokol kesehatan
2. Melakukan promosi investasi untuk peningkatan nilai investasi sektor industri pengolahan non-migas hingga tahun 2020. Sehingga industri-industri baru dapat tumbuh untuk suplai bahan baku pasar domestik. Komitmen pemerintah dalam pemberian insentif maupun kemudahan bagi industri dan melaksanakan penggunaan produk dalam negeri, sehingga pada tahun 2022 nilai TKN dapat mencapai 53%.
3. Restrukturisasi mesin/peralatan untuk industri penghasil bahan baku (intermediate industri) agar utilisasi industri meningkat.
4. Penumbuhan IKM yang melakukan kemitraan dengan industri besar, sedang, sehingga IKM dapat sebagai produsen bahan baku/barang setengah jadi untuk industri besar sedang. IKM menjadi bagian dari rantai pasok.
5. Mendorong peningkatan circular economy dengan mengeluarkan fly ash, bottom ash, slag, dan SBE dari limbah B3.



Simak Video "Jokowi Senang Ada 7 Investor Masuk ke Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)