Industri Tekstil Babak Belur, Pengusaha: Stok Pakaian Numpuk

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 13 Jul 2020 15:15 WIB
Produk tekstil impor dari China makin deras masuk ke Indonesia. Para pengusaha industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Jabar pun mengeluh karena terancam bangkrut.
Foto: Rico Bagus
Jakarta -

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa sendiri mengatakan kondisi industri tekstil saat ini terpukul karena permintaan dari pasar yang berkurang. Alhasil, stok menumpuk tanpa mendapatkan untung.

Dia menyebut, di momen lebaran saja, yang biasanya diharapkan menjadi puncak pembelian bahan tekstil, karena ada PSBB jadi tidak terlaksana.

"Kalau kami yang tadinya berharap dari penjualan tekstil selama lebaran, karena PSBB jadi tidak terjadi. Jadinya stok pakaian menumpuk, termasuk sarung," ujar Jemmy kepada detikcom, Senin (13/7/2020).

Bank Indonesia (BI) sendiri mencatat industri pengolahan mengalami penurunan kinerja dalam pada kuartal II 2020. Sektor tekstil dan alas kaki menjadi industri yang terhantam paling dalam.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko menjelaskan dalam Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia tercatat 28,55% turun dibandingkan periode kuartal I-2020 45,64%.

Jemmy sendiri mengakui penurunan tersebut. Permintaan yang menurun menjadi salah satu masalah utama yang dialami industri tekstil, mulai dari pasar lokal dan ekspor terganggu.

"Kuartal ke II memang yang terdalam, sepertinya bukan TPT saja. Industri tekstil masalah utamanya adalah market lokal & ekspor terganggu," kata Jemmy.



Simak Video "Surga Belanja Itu Bernama Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)