Demi Jaga Rupiah, Krakatau Steel Rem Ekspor Baja

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 27 Jul 2020 18:37 WIB
PT Krakatau Steel (persero) Tbk kembali membangun pabrik pipa baja untuk anak perusahaannya, PT Krakatau Hoogoven Indonesia di Cilegon. Total Investasinya mencapai Rp 335,6 miliar dengan target´┐Ż kapasitas produksi 150.000 ton per-tahun. Yuk, kita lihat proses produksi pipa baja di pabrik tersebut.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Krakatau Steel Tbk (KS) akan menahan ekspor bajanya dan fokus memenuhi kebutuhan domestik. Selain itu untuk mendorong industri tanah air, diharapkan itu dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, konsumsi baja di Indonesia masih sangat rendah. Berdasarkan data yang ada, konsumsi baja di tanah air hanya 60 kilogram (kg) per kapita per tahun. Menurutnya, negara yang besar pasti mempunyai industri baja yang kuat. Misalnya saja seperti China, Amerika Serikat, Rusia, Korea Selatan dan Jepang.

"Untuk fokus, kami sebaiknya fokus di dalam negeri karena volume impornya masih tinggi. Impor baja itu masih sekitar 7-8 juta ton per tahun. Jika dibandingkan dengan Korea Selatan, konsumsi bajanya mencapai 1.300 kilogram per kapita per tahun. Kita masih rendah. Negara yang ekonomi kuat, pasti industri bajanya juga kuat," ujarnya dalam acara Forum Dialog HIPMI 'Sinergi Industri Nasional dalam Membangun Industri Baja' pada keterangannya (27/7/2020).

Dia mengatakan, bila ingin jadi negara besar, maka industri baja harus kuat, untuk menopang pembangunan infrastruktur dan industrinya. Apalagi industri baja disebut sebagai induk dari semua industri (mother of industry). Sebab, sebagian besar industri yang ada menggunakan baja, baik itu dari automotif, elektronik, galangan kapal bahkan industri makanan.

"Industri baja diperlukan sebagai syarat untuk agar industrinya sebuah negara itu maju. Untuk itu, diperlukan sinergi antara pemerintah atau BUMN dengan swasta," ucapnya.

Silmy menambahkan, pihaknya hanya mengalokasikan sekitar 10% dari total produksi perseroan untuk pasar global. Menurutnya, alokasi pasar ekspor tersebut hanya untuk menjaga konsumen global KS dan mengimbangi benchmark industri baja global.

Pihaknya memilih pasar domestik sebagai fokus utama dengan dasar hal tersebut dapat membantu neraca dagang industri baja nasional. Seperti diketahui, impor besi dan baja menempati urutan ketiga sebagai produk dengan nilai impor tertinggi beberapa tahun terakhir.

"Artinya, rupiah tidak ikut tertekan kalau KS bantu mengurangi impor di pasar domestik. Jadi, lebih bagus jaga pasar domestik. Dan saya juga terus terang membuka kesempatan kepada siapapun untuk bisa bersinergi dengan Krakatau Steel," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2