Kinerja Industri Turun, Tarif Cukai Rokok Masih Perlu Naik?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2020 19:15 WIB
Ilustrasi Pita Cukai Rokok
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Perindustrian menilai kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok tahun 2021 tidak perlu setinggi tahun sebelumnya yang sebesar 23% dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. Jika ada kenaikan diharapkan lebih moderat mengingat kinerja industri hasil tembakau (IHT) sedang menurun lantaran terdampak pandemi Corona.

Kepala Subdirektorat Program Pengembangan Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mogadishu Djati Ertanto mengatakan kinerja industri hasil tembakau mengalami penurunan 10,8% di kuartal II-2020.

"Kenaikan cukai saat ini telah memukul industri terutama golongan SKT. Utilisasi SKT turun 40-50% karena adanya physical distancing," kata Mogadishu dalam acara webinar Menilik Arah Kebijakan Industri Hasil Tembakau sebagai Sektor Padat Karya yang dikutip, Selasa (11/8/2020).

Selain pandemi Corona, Mogadishu mengatakan, kenaikan cukai rokok di tahun ini juga memberikan dampak besar pada penurunan kinerja industri hasil tembakau nasional. Menurut dia, penurunan kinerja IHT akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja khususnya pada golongan sigaret rokok tangan (SKT) yang merupakan sektor padat karya dan menyerap tenaga kerja sangat tinggi. Oleh karena itu, dirinya berharap kenaikan cukai rokok lebih moderat di tahun 2021.

Penurunan kinerja IHT juga dikonfirmasi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan. DJBC memprediksi diprediksi penerimaan cukai hasil tembakau sekitar Rp165 triliun di 2020, atau tidak memenuhi target sebesar Rp 173,15 triliun.

Kasubdit Komunikasi dan Publikasi DJBC Kemenkeu Deni Surjantoro mengungkapkan hingga saat ini belum ada penetapan target kenaikan cukai rokok atau hasil tembakau untuk tahun 2021.

"Untuk tahun depan belum ada target yang ditetapkan antara pemerintah dengan DPR, pemerintah juga masih mengevaluasi kinerja (DJBC) saat ini. Ditambah juga hingga semester 1 2020, industri tembakau masih mengalami penurunan baik dari volume maupun penjualan," ungkap Deni.



Simak Video "Sinyal Sri Mulyani soal Kebijakan Cukai Rokok"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/fdl)