Pemerintah Diminta Kendalikan Ekspor Kelapa Mentah

Luthfiana Awaluddin - detikFinance
Senin, 31 Agu 2020 22:53 WIB
25 kontainer kelapa ekspor asal Sumatera Selatan ditolak Thailand karena bertunas, dan kondisi itu tidak sesuai ketentuan yang berlaku.
Ilustrasi ekspor kelapa/Foto: Raja Adil Siregar
Karawang -

Pemerintah diminta jeli soal kebijakan ekspor bahan mentah khususnya kelapa bulat. Sebab, sejumlah negara seperti Cina, Malaysia dan Vietnam mulai membeli banyak bahan baku kelapa.

Alhasil UMKM lokal yang memproduksi produk turunan kelapa seperti briket sempat kesulitan bahan baku.

"Saat ini, bahan baku kelapa mentah sempat mengalami penurunan karena banyak diekspor. Sehingga bahan baku kelapa sempat agak langka. Alhasil, harga bahan baku saat ini naik. Informasi dari pemasok di Sumatera dan Sulawesi, negara seperti Cina, Malaysia dan Vietnam mulai banyak membeli kelapa bulat," kata Adi Gunardi (32) pelaku usaha briket asal Karawang, Jawa Barat saat ditemui di pabriknya, Senin (31/8/2020).

Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia. Namun, kata Adi, akhir-akhir ini berhembus isu soal kelangkaan kelapa karena diserbu eksportir. "Karena ada kenaikan harga dan kelangkaan bahan baku mulai dirasakan," ujar Adi.

Adi menuturkan, beberapa bulan lalu, harga arang tempurung kelapa mencapai Rp 6 ribu per Kg. Namun saat ini, mencapai Rp 7 ribu per Kg. Saat bahan baku normal, Adi mengaku bisa memproduksi 20 ton briket sepekan. Namun tiga bulan terakhir, Adi hanya bisa membuat 10 ton briket sepekan. "Kenaikan harga kabarnya disebabkan kelangkaan. Sebab selama pandemi corona, ekspor kelapa masih melesat," kata Adi.

Adi berharap, pemerintah harus mulai mengontrol ekspor kelapa. Sebab kata Adi, banyak UMKM yang memerlukan kelapa bulat sebagai bahan baku produk turunannya. "Kalau Indonesia mengekspor produk turunan kelapa, akan lebih bernilai dan berdampak baik," ujar Adi.

"Kita juga harus waspada karena negara importir kelapa seperti Cina dikenal sebagai produsen briket. Sebetulnya kita bersaing," Adi menambahkan.

Sejak setahun lalu, muncul wacana supaya pemerintah membatasi ekspor kelapa bulat. Tujuannya supaya menambah keuntungan negara karena ekspor produk turunan memiliki nilai tambah. Namun sejumlah pihak berharap sebaliknya, sebab ekspor kelapa mentah dianggap bisa jadi solusi melimpahnya produksi kelapa karena tak terserap kebutuhan dalam negeri.



Simak Video "Nikmatnya Bakso Kelapa Muda, Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)