Strategi Pabrik Rokok Biar Nggak Ditinggal Konsumen Saat Pandemi?

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 18 Sep 2020 16:07 WIB
Pemerintah akan menaikkan cukai rokok 23% dan harga jual eceran (HJE) 35% mulai tahun depan.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pandemi Corona (COVID-19) ternyata berdampak pada perubahan perilaku konsumsi para perokok. PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) menilai perubahan perilaku konsumen terjadi, seiring dengan daya beli yang menurun yang membuat para konsumen terlihat beralih ke rokok dengan kadar tar tinggi dan cenderung membeli bungkus rokok yang lebih kecil.

"Ada kecenderungan (perokok dewasa) melakukan perpindahan dari rokok yang tar-nya kadarnya sedang atau rendah ke yang kadar tar-nya tinggi," ujar Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis dalam paparan publik secara virtual, Jumat (18/9/2020).

Sampoerna pun melakukan penyesuaian atas pergeseran permintaan tersebut salah satunya dengan meluncurkan produk sigaret kretek mesin (SKM) tar tinggi. Berdasarkan materi presentasi HSMP, pangsa pasar SKM high tar secara industri meningkat dari 39,9% pada kuartal II-2019 menjadi 43,5% pada kuartal II-2020.

Sebaliknya, pangsa pasar SKM low tar pada periode yang sama turun dari 38,6% menjadi 33,1% dan pangsa pasar sigaret putih mesin (SPM) berkurang dari 5,4% menjadi 4,3%.

Sedangkan pangsa pasar sigaret kretek tangan (SKT) naik dari 16,1% menjadi 19,1%. Melihat tren peningkatan pada produk SKT, Sampoerna juga meluncurkan produk SKT Sampoerna 234 dengan isi 12 batang pada Maret 2020. Terlebih lagi, pangsa pasar untuk kemasan kecil isi sepuluh batang atau 12 batang secara industri terus meningkat dari 39,4% pada kuartal II-2019, lalu 42,8% pada kuartal I-2020, dan 44,4% pada kuartal II-2020.

Selain terpengaruh oleh pandemi COVID-19, pemicu perubahan perilaku tadi lainnya berasal dari kenaikan tarif cukai dan harga jual eceran. Tarif cukai dan harga jual eceran masing-masing mengalami kenaikan 24% dan 46%.

"Dua faktor ini menyebabkan penurunan volume penjualan hingga dua digit," sambungnya.

Selama semester I-2020, penjualan Sampoerna mengalami penurunan khususnya pada kuartal II-2020. Hal tersebut tercermin pada total pangsa pasar Sampoerna yang turun 3,1% year on year (yoy) menjadi 29,3% sepanjang semester I-2020 dan volume pengiriman yang merosot 18,2% yoy menjadi 38,5 miliar batang.

Meskipun begitu, Mindaugas optimistis, volume penjualan rokok akan kembali pulih setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berakhir. Sebelumnya, Sampoerna melihat pemulihan tipis selama PSBB masa transisi, tetapi pengetatan PSBB kembali berpotensi kembali membawa dampak negatif pada volume penjualan perseroan.



Simak Video "Karyawan Rokok 369 Geruduk Mabes Polri"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)