Jangan Tunggu Makan Korban, Impor Baja Ilegal Harus Ditindak Tegas

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 27 Sep 2020 15:59 WIB
Progres pembangunan Rumah Susun Sewa Tingkat Tinggi (RTT) Pasar Rumput terus dikebut. Rencananya proyek tersebut akan selesai pada akhir 2018.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Adanya temuan soal baja impor ilegal yang masuk ke Indonesia jelas bikin resah. Selain ilegal, peredaran baja ini dianggap berbahaya bagi kelangsungan konstruksi tanah air karena banyak di antaranya yang juga dilabeli standar nasional (SNI) abal-abal.

Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah meminta pemerintah lebih cermat dalam melakukan pengawasan terhadap proyek-proyek strategis nasional seiring dengan maraknya peredaran baja impor ber-SNI abal-abal tersebut.

"Saat ini, marak impor baja ilegal. Kebijakan pemerintah jelas melindungi baja dalam negeri, namun ada pihak yang mengambil keuantungan dengan melakukan impor baja ilegal itu," kata Trubus dalam keterangannya, Minggu (27/9/2020).

Menurutnya, baja memegang peranan penting dalam berbagai proyek strategis nasional terutama yang berkenaan dengan infrastruktur. Sebut saja pembangunan tower listrik dalam proyek 35.000 MW yang tengah digenjot pemerintah. Belum lagi sejumlah proyek jalan strategis yang membutuhkan baja sebagai komponen penting, terutama dalam hal pembangunan jembatan.

Ia mengingatkan, jangan sampai ada korban yang jatuh baru pemerintah bertindak.

"Kementerian BUMN sebagai pemegang saham BUMN perlu juga membentuk tim untuk menginvestigasi kasus baja impor yang masuk ke proyek strategis nasional," tegas dia.

Pemerintah sebenarnya tak tinggal diam dalam mengungkap praktik pemalsuan SNI pada produk baja yang bisa membahayakan industri infrastruktur nasional.

Baru-baru ini terungkap kasus dugaan manipulasi produk baja lokal dengan kedok impor dari Thailand. Baja impor Negeri Gajah Putih itu ditempel SNI sehingga terkesan produk PT GIS merupakan produk (lokal) yang lolos SNI.

Penyidik Polda Metro Jaya telah menetapkan 6 orang sebagai tersangka dalam kasus ini, termasuk salah seorang direktur PT GIS. Polisi juga telah menyita 4.600 ton baja impor dari gudang milik PT Gunung Inti Sempurna (GIS).

PT GIS bisa melakukan impor karena mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian dan izin dari Kementerian Perdagangan. Namun dalam perjalannya terungkap bahwa dasar pemberian rekomendasi dan izin itu didasari dari purchase order (PO) palsu.



Simak Video "Diserbu Baja Impor, Pabrik Domestik 'Dibunuh'"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/dna)