Bisa Jadi Sumber Pangan Alternatif, Pengolahan Sagu Terus Digenjot

Angga Laraspati - detikFinance
Kamis, 22 Okt 2020 14:40 WIB
Mengapa Sagu Bisa Jadi Makanan Pokok Pengganti Beras? Ini Sebabnya
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Kementerian Perindustrian mendorong tumbuhnya industri pengolahan sagu untuk mengakselerasi hilirisasi komoditas sagu. Pemerintah pun telah menjadikan program peningkatan pengelolaan sagu sebagai program prioritas. Saat ini, sebanyak 50,33% total luas tanaman sagu berada di Pulau Papua.

"Hilirisasi produk sagu diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat, penyerapan tenaga kerja, serta peningkatan potensi pajak dan pendapatan asli daerah, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut," imbuh Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2020).

"Hal ini sejalan dengan kebijakan Bapak Presiden Joko Widodo dalam melakukan pembangunan Indonesia melalui wilayah pinggiran," tambahnya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat menjadi alternatif pangan nasional. Sagu pun telah menjadi pangan utama bagi masyarakat kawasan timur Indonesia.

Bahkan kini banyak produk yang dikembangkan dari sagu seperti glukosa yang dihasilkan melalui pemanfaat pati yang dapat dijadikan etanol dan fruktosa dalam industri makanan dan minuman. Selain itu, sagu juga bisa dimanfaatkan untuk menjadi dextrin yang umum digunakan di industri kayu, kosmetik, farmasi, dan pestisida.

"Selain sebagai bahan pangan, sagu menghasilkan glukosa yang dapat dijadikan asam organik untuk industri kimia, farmasi dan energi," sebut Agus.

Agus menambahkan masa pandemi kali ini seakan memberi pelajaran bagi semua pihak bahwa ketahanan pangan sangat penting. Hal ini juga menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk terus berupaya memastikan pasokan pangan yang sehat bagi masyarakat.

Oleh karena itu, masa pandemi ini dijadikan momentum yang baik untuk membangun kedaulatan pangan melalui program diversifikasi produk dan konsumsi.

"Pengembangan sagu sebagai salah satu pangan pokok perlu diakselerasi. Sebab, selain berbasis kearifan lokal, hilirisasi sagu juga dapat menjaga ketahanan pangan nasional," ujar Agus.

Pemerintah juga memasukkan pengolahan sagu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Artinya, pemerintah memandang sagu sebagai bagian yang penting dan strategis bagi ketahanan pangan nasional terutama menghadapi krisis pangan seperti yang diprediksi oleh Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).

Agus menegaskan agar industri pengolahan sagu dapat tumbuh dan berkembang, perlu juga peran pemangku kepentingan terkait agar dapat memberi perhatian khusus dalam perbaikan infrastruktur di sentra-sentra penghasil sagu.

"Sebab, sagu pada umumnya tumbuh di remote area dengan infrastruktur yang masih kurang memadai seperti akses jalan maupun listrik. Oleh karena itu, kami akan berkoordinasi dengan instansi-instansi yang terkait," jelasnya.

Agus juga menuturkan Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dalam negeri agar rantai pasokan tidak terganggu sehingga peningkatan diversifikasi pangan lokal perlu dilakukan lewat berbagai cara.

"Namun demikian, peningkatan diversifikasi pangan lokal perlu dilakukan melalui penyebaran informasi produk-produk pangan yang sehat dan bergizi sehingga dapat memberikan opsi kepada masyarakat untuk mengonsumsi berbagai sumber pangan bernutrisi lainnya seperti sagu, singkong, jagung, dan lain lain," paparnya.

Selanjutnya, dalam rangka Pekan Sagu Nusantara 2020, Agus mengapresiasi pemerintah daerah dan para pelaku industri kecil menengah (IKM) yang telah mengembangkan sagu dengan berbagai inovasi menjadi makanan dan aneka produk turunannya.

"Kami berharap sagu sebagai pangan sehat dapat terus disosialisasikan dan dikembangkan melalui program pembangunan sagu yang dilakukan secara terpadu dari hulu sampai hilir dengan melibatkan seluruh stakeholder dan terus digulirkan menjadi program yang berkelanjutan untuk memaksimalkan potensi sagu untuk mendukung ketahanan pangan dan energi," papar Menperin.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Papua Barat Dominggus Mandacan menyampaikan potensi pengembangan sagu di provinsi tersebut masih luar biasa. Dari 510 ribu hektare lahan sagu, yang digarap baru sekitar 20 ribu hektare atau setara 3,93%.

Sebagai informasi. Peringatan Pekan Sagu Nasional 2020 diselenggarakan secara serentak di kantor Kementerian Koordinasi Bidang Perekonomian serta di 13 provinsi yang merupakan sentra penghasil sagu di Indonesia.

Peringatan ini diharapkan mampu mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan memberikan manfaat yang luas kepada masyarakat, serta menunjang upaya diversifikasi pangan untuk Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

(prf/hns)