Menimbang Lagi Rencana Cukai Rokok Naik di Tengah Pandemi

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 28 Okt 2020 15:05 WIB
Ilustrasi Pita Cukai Rokok
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Industri hasil tembakau, salah satu industri strategis nasional yang terpukul dan terpuruk akibat wabah COVID 19. Keterpurukan semakin bertambah setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan lewat peraturan menteri keuangan (PMK) Nomor 152/ 2019 yang telah menaikkan cukai dan harga jual eceran (HJE) rokok masing masing sebesar 23 persen dan 35 persen.

Apabila tahun 2021 pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sama, IHT diyakini akan semakin babak belur. Itu berarti ribuan tenaga kerja IHT termasuk para petannya akan kehilangan pekerjaan.

ketua umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (DPN APTI) Agus Parmuji mengatakan, tahun ini kesejahteraan petani tembakau sudah hancur akibat harga jual tembakau yang rendah. Harga jual tembakau rendah karena pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan cukai dan harga jual eceran yang sangat tinggi di tahun 2019 yang berlaku mulai April 2020.

Akibatnya harga rokok juga tinggi. Daya beli masyarakat sedang menurun karena adanya wabah COVID. Produksi dan penjualan rokok menurun.

"Jika benar akan ada kenaikan harga cukai, kehidupan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat industri hasil tembakau di Tanah Air akan makin parah," papar dia dalam keterangannya, Rabu (28/10/2020).

Lebih lanjut Agus menjelaskan, akibat kebijakan kenaikan cukai yang tinggi saat ini para petani tembakau mengalami kesulitan melanjutkan mata pencaharian di bidang perkebunan tembakau. Apalagi di masa pandemi COVID-19, petani tembakau perlu bertahan hidup dari himpitan ekonomi akibat COVID 19.

Kondisi ini seharusnya menjadi kajian dan perhatian pemerintah sebelum mengeluarkan kebijakan.

"Petani dan buruh industri tembakau sudah menderita kok cukai malah mau dinaikkan lagi?" tanya Agus Pamuji.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3