Menperin Beberkan Potensi dan Peluang Industri Agro

Inkana Putri - detikFinance
Selasa, 10 Nov 2020 16:17 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
Foto: Dok. Kemenperin
Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berkomitmen untuk meningkatkan industri agro. Pasalnya, industri agro menjadi salah satu kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Ia menyampaikan sepanjang triwulan III 2020, kontribusi industri agro terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pengolahan nonmigas juga cukup signifikan, yakni mencapai 52,94%.

"Di tengah pertumbuhan industri nonmigas yang terkontraksi 4,20%, industri makanan dan minuman masih tumbuh positif sebesar 0,66%. Kami terus berupaya meningkatkan kinerjanya," ujar Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (10/11/2020).

Adapun sub-sektor industri agro yang memberikan kontribusi besar pada PDB sektor pengolahan nonmigas pada triwulan III 2020 meliputi industri makanan dan minuman dengan kontribusi mencapai 39,51%.

Selanjutnya, diikuti industri pengolahan tembakau (4,8%), industri kertas dan barang dari kertas (4,22%), serta industri kayu, barang dari kayu, rotan dan furniture (2,84%).

"Industri agro juga mempunyai peranan yang penting dalam kontribusi nilai ekspor sektor pengolahan nonmigas," imbuhnya.

Agus menjelaskan pada Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro menembus US$ 29,27 miliar atau setara 35,36% pada ekspor sektor manufaktur sebesar US$ 82,76 miliar.

"Dari realisasi nilai investasi PMA dan PMDN di sektor industri pengolahan nonmigas yang mencapai Rp 201,9 triliun pada Januari-September 2020, kontribusi industri agro sebesar Rp 91,9 triliun. Ini salah satu bukti bahwa industri agro masih bergeliat di Tanah Air," katanya.

Menurutnya, potensi pengembangan industri agro di Indonesia cukup prospektif karena didukung pasar domestik yang besar, sumber daya pertanian yang berlimpah sebagai sumber bahan baku industri agro dalam negeri, perubahan pola konsumsi konsumen yang cenderung beralih ke makanan kemasan modern, serta munculnya pemain-pemain industri agro nasional yang mampu bersaing secara global.

"Dengan adanya peluang tersebut, kebijakan pemerintah dalam pembangunan industri agro adalah menjadikan Indonesia menjadi pemain terkemuka di pasar regional dengan strategi utama melalui peningkatan ekspor produk industri agro, serta mengurangi ketergantungan impor bahan baku, bahan penolong, dan barang modal," tandasnya.

Oleh karena itu, diperlukan strategi dan langkah yang tepat guna meningkatkan ekspor di sektor industri agro. Adapun langkah tersebut di antaranya melalui penguatan kemampuan industri agro secara menyeluruh dengan fokus pada perbaikan sektor hulu pertanian, serta penerapan sektor pertanian dan industri agro dengan teknologi industri 4.0.

"Meningkatkan efisiensi value-chain dengan membangun jaringan cold-chain yang lebih baik, serta peningkatan produksi industri agro modern dengan inovasi produk didukung dengan insentif super deduction tax untuk research and development (R&D)," ungkapnya.

Sementara itu guna memenuhi pasar ASEAN dan global, Agus menyampaikan perlu dilakukan upaya untuk memperkuat daya saing produk industri agro dari segi kualitas, harga, dan kemampuan delivery. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), teknis, dan teknologi industri agro juga penting guna memperkuat kemampuan produksi nasional di pasar global.

"Pada tahun 2020-2022 sektor industri agro yang akan didorong penurunan impornya adalah industri pengolahan susu, industri pengolahan buah, industri gula berbasis tebu, dan industri kertas sebesar 20,54% atau senilai Rp 32.862,35 miliar," pungkasnya.

Terkait hal ini, upaya yang dipacu adalah melalui penambahan produksi untuk keempat jenis produksi tersebut, yakni sebesar Rp 120.019,81 miliar atau naik 35,29% dibandingkan tahun 2019. Langkah selanjutnya adalah mendorong realisasi investasi sebanyak 25 proyek dengan total nilai investasi sebesar Rp 30 triliun.

(akn/ega)