Mantap! Ternyata Kereta Buatan INKA Bisa Lebih Murah dari China

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 16:20 WIB
Petugas bersiap memberangkatkan rangkaian lokomotif dan kereta penumpang pesanan Commuter Philippines National Railways Filipina produksi PT Inka saat uji dinamik di Stasiun Kereta Api (KA) Madiun, Jawa Timur, Rabu (24/6/2020). Uji dinamik rangkaian terdiri satu unit lokomotif diesel hydraulic dan lima kereta penumpang akan dilakukan sejauh 1.000 kilometer bertujuan untuk inspeksi fungsi pengereman dan alat perangkai mekanik maupun alat perangkai elektronik. ANTARA FOTO/Siswowidodo/aww.
Foto: ANTARA FOTO/SISWOWIDODO
Jakarta -

PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA sedang menggarap proyek pengadaan kereta atau rolling stock di Bangladesh dan Filipina. Sebelum menggarap proyek itu, INKA harus bersaing dengan China selama proses pelelangan terbuka.

Direktur Utama INKA Budi Noviantoro mengaku, pihaknya sempat cemas ketika bertemu China di proses pelelangan terbuka untuk dua proyek di Bangladesh dan China. Namun, pada akhirnya INKA memenangkan lelang tersebut karena bisa memberikan kereta dengan harga yang lebih murah dari China.

"Ini lelang terbuka ada risikonya, apalagi kalau ketemu perusahaan-perusahaan China. Kita tahu harga China sudah mepet, sudah murah, tapi INKA masih murah," ujar Budi dalam webinar Ngopi BUMN, Rabu (18/11/2020).

Hasilnya, INKA akan memasok 250 unit rolling stock ke Bangladesh, 6 rangkaian kereta atau train set-3 lokomotif-15 kereta penumpang ke Filipina.

"Menang ini beberapa kali kita dapat di Bangladesh, terakhir 250 kereta Oktober selesai. Sekarang sedang proses menyelesaikan pesanan Filipina. Sekarang sudah selesai 6 train set, masih ada 3 lokomotif dan 15 kereta penumpang," ujarnya.

Untuk Filipina, Budi mengaku kesulitan melakukan uji coba unit keretanya karena negara tersebut menerapkan lockdown.

"Di sana lockdown, kita kesulitan kirim. Mudah-mudahan bulan depan bisa kita kirim karena tim dari Filipina sudah datang ke INKA untuk melakukan test," imbuh Budi.

Selain Bangladesh dan Filipina, INKA juga memperoleh 3 proyek pembangunan lintas negara di benua Afrika. Proyek besar itu membutuhkan waktu pengerjaan hingga 30 tahun. Adapun proyeknya antara lain lintasan Liberia-Libya sepanjang 7.411 kilometer (Km), lintasan Gabon-Eritrea sepanjang 4.564 Km, dan lintasan Kongo-Tanzania sepanjang 5.797 Km.

Selain itu, Budi mengatakan INKA juga sedang menjajaki proyek di Amerika Latin, antara lain Honduras yang membutuhkan 252 lokomotif dengan total 8.824 wagon. Kemudian, Uruguay yang membutuhkan 2 lokomotif dan 40 wagon. Terakhir, Ekuador yang membutuhkan 68 lokomotif dengan total 1.020 wagon. Menurutnya, negara-negara di benua tersebut sudah bosan dengan produk China.

"Mereka sudah bosan dengan produk China. Mereka datang ke kantor saya, bantu bagaimana kita bisa masuk ke pasar sana. Memang agak jauh, tapi ini pasar yang memungkinkan bagi INKA dan BUMN lain ke sana," pungkas Budi.



Simak Video "INKA: Nggak Ada LRT Mogok Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)