Bio Farma Beberkan Biang Kerok Harga Obat di RI Mahal

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 17:30 WIB
ilustrasi obat antiretroviral
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta -

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir membeberkan biang kerok harga obat di Indonesia mahal, yakni lantaran produsen obat mengandalkan pinjaman dari pihak ketiga. Menurutnya itu menimbulkan tambahan biaya untuk membuat obat.

Dia tak menyebutkan apakah tambahan biaya tersebut bersumber dari bunga pinjaman dari pihak ketiga atau apa. Yang jelas, adanya tambahan biaya itu dibebankan ke harga pokok produksi (HPP).

"Kita kalau hanya mengandalkan kepada pendanaan pihak ketiga tentunya ada cost of money yang harus kita bebankan kepada harga pokok produksi, sehingga membuat harga jual obat juga menjadi lebih mahal, padahal ini sifatnya adalah penugasan," kata dia dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Rabu (18/11/2020).

Dia pun menyarankan agar pemerintah menetapkan skema pembiayaan untuk pelaksanaan, penugasan ataupun penunjukan langsung yang tidak memberatkan. Artinya, kalau seandainya ada penugasan dari pemerintah untuk produk ataupun alat-alat tertentu maka perlu diberi bantuan pendanaan di awal.

"Memang harus dipikirkan ada semacam pemberian bantuan pendanaan di awal," sebutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2